Menkeu Sebut Surplus Neraca Pembayaran Melonjak Tembus US$ 3,5 Miliar
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut surplus neraca pembayaran Indonesia hingga Januari 2025 menembus US$ 3,5 miliar. Ini meningkat US$ 1,5 miliar dibandingkan Januari 2024.
Di sisi lain, Menkeu mengaku tidak heran dengan kondisi ekspor yang terkontraksi selama Februari 2025. "Angka komponen ekspor pada PMI Manufaktur Februari 2025 tercatat sebesar 49,4. Ekspor sedikit turun, tidak heran karena disrupsinya luar biasa,” kata Sri Mulyani di kantornya, Jakarta, Kamis (13/03/2025).
Baca Juga
Pendapatan Negara Rp 316,9 Triliun, APBN Defisit Rp 31,2 Triliun
Ekspor Logam dan Elektronik Naik
Sri Mulyani mengatakan, ekspor dari beberapa industri domestik masih ada yang bagus. Ini misalnya ekspor logam dasar dan elektronik, yang hingga Januari 2025 tetap tumbuh positif. Pertumbuhan ini terjaga sejak Desember 2024.
“Olahan nikel tumbuhnya 47,2%, untuk tembaga 4,6%, dan elektronika 20,5%. Yang negatif itu besi dan baja karena terhantam berbagai tarif yang diberlakukan,” kata dia.
Baca Juga
Menurut Menkeu, ekspor dari industri dan alas kaki RI tetap tumbuh selama Januari 2025. Ekspor industri alas kaki tumbuh 17%. Sementara tekstil dan produk tekstil (TPT) meski rendah tetap tumbuh 3,8%.
“Ini menggambarkan produksi dan aktivitas manufaktur di Indonesia itu tetap mampu bertahan, bahkan mereka itu cukup kuat,” tandasnya.
Berdasarkan data PMI Manufaktur Februari 2025, lanjut dia, komponen output tercatat berada di level 54,4, total permintaan di 54,8, tenaga kerja 53, dan stok barang jadi 51,7. Sementara, stok input produksi 54,1.
Selama Februari 2025, PMI Manufaktur Indonesia berada dalam kategori ekspansif 53,6. Sri Mulyani menjelaskan, kondisi tersebut menjadi landasan untuk terus optimistis.
"Sehingga, perekonomian Indonesia harus tetap dijaga. Dengan kinerja manufaktur yang bagus, ketahanan eksternal kita cukup terjaga baik,” kata dia.

