Indeks Dolar AS Rebound, Rupiah Dibuka Melemah
JAKARTA, investortrust.id - Indeks olar Amerika Serikat terpantau rebound dalam pembukaan perdagangan Jumat (7/3/2025) pagi, sehingga berdampak menekan kurs rupiah melemah. Berdasarkan data Yahoo Finance, kurs rupiah melemah 25 poin (0,15%) ke level Rp 16.349 per dolar AS.
"Indeks dolar sebelumnya sedikit menguat dari titik terendah dalam empat bulan, karena euro yang lebih kuat dan dampak berkelanjutan dari tarif Presiden AS Donald Trump membebani mata uang tersebut," kata Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo kepada Investortrust, Jakarta, Jumat (07/03/2025)
Baca Juga
Trump baru-baru ini memberikan pengecualian satu bulan bagi produsen mobil AS dari pemberlakukan penaikan tarif 25%-nya atas barang Kanada dan Meksiko dan menyatakan keterbukaan terhadap konsesi lebih lanjut. Kebijakan penaikan tarif telah memicu perang dagang.
"Tarif baru AS terhadap Kanada, Meksiko, dan Tiongkok telah mendorong tindakan pembalasan dari negara-negara tersebut. Ini meningkatkan kekhawatiran akan meningkatnya perang dagang yang dapat merugikan pertumbuhan ekonomi AS," katanya.
Rupiah juga tercatat melemah sejumlah mata uang lain. Ini misalnya yen Jepang, berdasarkan data Yahoo Finance.
Nilai tukar mata uang Garuda melemah 0,33 poin atau 0,299% ke Rp 110,67 per yen pagi ini. Sedangkan secara year to date sudah melemah 7,97%.
Rupiah juga tercatat melemah terhadap euro Jumat pagi. Kurs melemah 21 poin atau 0,12% ke Rp 17,637 per euro, sehingga secara year to date sudah tertekan 5,87%.
Berharap Ada Kelegaan
Sementara itu Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Andry Asmoro mengungkap, kini, investor berharap akan ada kelegaan setelah Gedung Putih mengumumkan penundaan tarif selama satu bulan untuk beberapa barang Meksiko dan Kanada. Tetapi sentimen pasar tetap rapuh.
Ia mengatakan, di satu sisi, data klaim pengangguran mingguan menunjukkan penurunan. Tetapi, kekhawatiran akan melambatnya pertumbuhan ekonomi dan potensi stagflasi masih ada.
Semua mata kini tertuju pada laporan pekerjaan hari Jumat untuk petunjuk lebih lanjut tentang lintasan ekonomi di Negeri Paman Sam. "Namun, data ekonomi menunjukkan sinyal yang beragam. Laporan yang optimistis tentang sektor jasa memberikan dukungan, sementara pertumbuhan gaji swasta yang lebih lemah dari perkiraan menimbulkan kekhawatiran tentang melambatnya momentum ekonomi," ujar Andry dalam keterangannya, Jumat (07/03/2025).
Baca Juga
Defisit perdagangan AS juga melebar ke rekor tertinggi pada Januari, didorong oleh lonjakan impor sebesar 10% menjelang tarif yang diantisipasi. Selain itu, pemutusan hubungan kerja melonjak ke level tertinggi sejak 2020.
Namun, klaim pengangguran awal berada di bawah ekspektasi, sehingga memberikan sedikit kepastian. "Fokus investor kini beralih ke laporan pekerjaan, bersamaan dengan penampilan Ketua The Fed Joreme Powell besok," ungkapnya.

