Rupiah Ditutup Menguat usai Neraca Perdagangan Indonesia Surplus
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah ditutup menguat dalam perdagangan valas Senin (17/02/2025), usai neraca perdagangan Indonesia diumumkan kembali surplus pada Januari lalu. Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat mata uang rupiah menguat 77 poin (0,47%), ke level Rp 16.208 per dolar Amerika Serikat.
Dari pasar spot valas, Yahoo Finance mencatat mata uang Garuda bergerak menguat 44 poin (0,27%) ke level Rp 16.210 per dolar AS. Pada hari sebelumnya, kurs rupiah ditutup di posisi Rp16.254 per dolar AS.
Menurut Kepala Ekonom PT Bank Central Asia (BCA) Tbk David Sumual, pergerakan rupiah cenderung menguat terhadap dolar AS sepanjang hari ini. "Menguatnya rupiah tidak lepas dari sentimen domestik, yakni neraca perdagangan Indonesia yang diumumkan surplus pada Januari 2025. Neraca dagang surplus karena turunnya impor (lebih dalam dari penurunan ekspor)," katanya kepada Investortrust, Jakarta, Senin (17/02/2025).
Perang Ukraina Prospek Berakhir
David Sumual menjelaskan kebijakan tarif impor oleh Presiden AS Donald Trump hanya salah satu faktor yang memang dampaknya bisa menurunkan permintaan dari negara-negara importir utama komoditas seperti Cina. "Tapi perkembangan sebulan terakhir menunjukkan bahwa tarif Trump masih cenderung berubah-ubah, sehingga prospek ke depan masih 50:50," ungkapnya.
Tidak hanya itu. Ia mengungkap faktor lain yang berpengaruh terhadap kinerja perdagangan Indonesia adalah cuaca yang bisa mendorong harga komoditas pertanian. Ada pula faktor geopolitik seperti perang atau konflik Ukraina-Rusia yang kemungkinan bisa berakhir.
"Namun, sejauh ini, kami tidak melihat adanya peningkatan berarti sehingga dampaknya ke harga komoditas relatif minim," tuturnya.
BPS mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2025 mengalami surplus US$ 3,45 miliar. Surplus terutama berasal dari sektor nonmigas US$ 4,88 miliar, namun sektor migas defisit senilai US$ 1,43 miliar.
"Surplus neraca perdagangan Indonesia ini naik dibanding bulan sebelumnya maupun bulan yang sama tahun lalu. Surplus tercatat sudah terjadi selama 57 bulan beruntun," ujar Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti di kantornya, di Jakarta, Senin (17/02/2025).
Sementara itu, BPS mencatat, ekspor Indonesia Januari 2025 mencapai US$ 21,45 miliar. Angka ini turun 8,56% dibandingkan dengan ekspor Desember 2024. Sedangkan impor turun 15,18%, menjadi US$ 18 miliar.

