Rilis Neraca Perdagangan Hari Ini, Rupiah Dibuka Menguat
JAKARTA, investortrust.id - Menjelang rilis neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2025 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini, nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat awal pekan, Senin (17/02/2025). Dilansir Yahoo Finance, kurs rupiah bergerak menguat 55 poin (0,34%) ke level Rp 16.199 per dolar AS.
"Ekspor diperkirakan tumbuh sebesar 9,5% year on year, tetapi terkontraksi sebesar 4,4% month on month. Penurunan ekspor bulanan didorong oleh harga komoditas ekspor utama Indonesia yang lebih rendah, seperti batu bara, nikel, dan CPO (minyak sawit mentah). Namun, pertumbuhan ekspor tahunan tetap positif, didukung oleh peningkatan harga rata-rata CPO sebesar 20,4% (yoy) pada Januari 2025 dan pertumbuhan volume ekspor batu bara yang kuat," kata Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro dalam keterangan di Jakarta, dikutip Minggu (16/02/2025).
Baca Juga
Pertumbuhan Impor
Neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2025 diperkirakan turun surplusnya lantaran pertumbuhan impor yang melebihi ekspor. Ia memperkirakan neraca perdagangan Januari mencatatkan surplus US$ 1,47 miliar, terkontraksi dibanding Desember 2024 yang mencapai US$ 2,24 miliar.
"Kontraksi karena pertumbuhan impor meningkat lebih cepat daripada ekspor," katanya.
Baca Juga
Trump Rancang Tarif Khusus Baru
Sementara dari sentimen global, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani arahan yang menginstruksikan Perwakilan Dagang dan Sekretaris Perdagangan AS untuk mengusulkan tarif khusus negara baru. Berikutnya, imbal hasil obligasi US Treasury note 10 tahun turun hingga di bawah ambang batas 4,5%, memperpanjang penurunan agresif dari sesi sebelumnya, setelah data baru menantang pandangan jangka panjang konsumen AS yang tangguh.
Data terbaru mendukung prospek bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga tahun ini, untuk mengatasi ekonomi yang melambat. Hal itu memperbesar dampak pembacaan yang lemah dalam komponen data inflasi produsen, yang diteruskan ke indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE).
"Minggu ini, di AS, para pedagang akan memantau dengan cermat risalah FOMC dan pernyataan dari beberapa pejabat The Fed. Ini untuk mendapatkan wawasan tentang prospek kebijakan Bank Sentral AS," kata Andry dalam keterangan di Jakarta, Senin (17/02/2025).
Terkait data, lanjut Andry, PMI Global S&P akan memberikan gambaran awal aktivitas ekonomi pada bulan Februari, di samping indikator regional utama.

