Naik, Surplus Neraca Perdagangan Januari Capai US$ 3,45 Miliar
JAKARTA, investortrust.id - Neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2025 mengalami surplus US$ 3,45 miliar. Surplus terutama berasal dari sektor nonmigas US$ 4,88 miliar, namun sektor migas defisit senilai US$ 1,43 miliar.
"Surplus neraca perdagangan Indonesia ini naik dibanding bulan sebelumnya maupun bulan yang sama tahun lalu. Surplus tercatat sudah terjadi selama 57 bulan beruntun," ujar Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti di kantornya, di Jakarta, Senin (17/02/2025).
Sementara itu, BPS mencatat, ekspor Indonesia Januari 2025 mencapai US$ 21,45 miliar. Angka ini turun 8,56% dibandingkan dengan ekspor Desember 2024. Sedangkan impor turun 15,18%, menjadi US$ 18 miliar.
Ekspor Migas-Nonmigas Turun
Amalia menjelaskan, dua penopang ekspor Indonesia yaitu komoditas minyak dan gas (migas) dan nonmigas mengalami penurunan secara bulanan. Nilai ekspor komoditas migas anjlok 31,35% pada Januari 2025 menjadi US$ 1,06 miliar.
“Nilai ekspor nonmigas Januari 2025 juga turun 6,69% secara bulanan, dibandingkan dengan Desember 2024. Nilai Ekspor nonmigas Januari US$ 20,4 miliar,” kata dia.
Ia mengatakan, penurunan nilai ekspor Januari 2025, secara bulanan, terutama didorong penurunan ekspor nonmigas. Komoditas yang menyebabkan penurunan yaitu bahan bakar mineral atau batu bara; lemak/minyak hewan/nabati yang mayoritas minyak sawit; serta bijih logam, terak, dan abu.
“Sedangkan penurunan ekspor migas didorong anjloknya nilai ekspor gas dengan andil sebesar 1,08% secara bulanan,” ujar dia.
Sementara itu, nilai ekspor secara tahunan mengalami peningkatan 4,68%. Kenaikan ini didorong ekspor nonmigas terutama ekspor kapal, perahu, dan struktur terapung; logam mulia dan perhiasan; serta ekspor bahan kimia anorganik.
Impor Januari Migas-Nonmigas Anjlok
BPS melaporkan, impor Januari 2025 turun dalam menjadi US$ 18 miliar. Ini baik impor migas maupun nonmigas.
“Pada Januari 2025, total nilai impor mencapai US$ 18 miliar, turun 15,18% dibandingkan Desember 2024. Penurunan impor secara bulanan terlihat pada komoditas migas dan nonmigas,” kata Amalia.
Amalia menjelaskan, impor komoditas migas tercatat turun sebesar 24,69%. Nilanya menjadi US$ 2,48 miliar pada Januari 2025.
Sedangkan impor nonmigas menjadi sebesar US$ 15,52 miliar pada bulan pertama 2025. Ini mengalami penurunan 13,43%.
"Penurunan impor secara bulanan didorong oleh penurunan impor nonmigas. Penurunan di komoditas ini memberikan andil sebesar 11,34%. Juga ada penurunan nilai impor migas, dengan andil penurunan 3,84%,” kata dia.
Secara tahunan, total nilai impor pada Januari 2025 mengalami penurunan 2,67%. Nilai impor migas merosot 7,99% dan nonmigas turun 1,76% secara tahunan.
Ekspor, impor, dan neraca perdagangan migas Indonesia hingga Januari 2025. Infografis: Diolah Riset Investortrust.
Rupiah Menguat Senin Pagi
Sementara itu, menjelang rilis neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2025 oleh Badan Pusat Statistik hari ini, nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat awal pekan, Senin (17/02/2025). Dilansir Yahoo Finance, kurs rupiah bergerak menguat 55 poin (0,34%) ke level Rp 16.199 per dolar AS.
"Ekspor diperkirakan tumbuh sebesar 9,5% year on year, tetapi terkontraksi sebesar 4,4% month on month. Penurunan ekspor bulanan didorong oleh harga komoditas ekspor utama Indonesia yang lebih rendah, seperti batu bara, nikel, dan CPO (minyak sawit mentah). Namun, pertumbuhan ekspor tahunan tetap positif, didukung oleh peningkatan harga rata-rata CPO (minyak sawit mentah) sebesar 20,4% (year on year) pada Januari 2025 dan pertumbuhan volume ekspor batu bara yang kuat," kata Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro dalam keterangan di Jakarta, dikutip Minggu (16/02/2025).
Baca Juga
Ia memperkirakan neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2025 turun surplusnya lantaran pertumbuhan impor yang melebihi ekspor. Ia memperkirakan neraca perdagangan Januari mencatatkan surplus US$ 1,47 miliar, terkontraksi dibanding Desember 2024 yang mencapai US$ 2,24 miliar.
"Kontraksi karena pertumbuhan impor meningkat lebih cepat daripada ekspor," prediksinya.
Baca Juga
Sementara dari sentimen global, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tercatat menandatangani arahan yang menginstruksikan Perwakilan Dagang dan Sekretaris Perdagangan AS untuk mengusulkan tarif khusus negara baru. Berikutnya, imbal hasil obligasi US Treasury note 10 tahun turun hingga di bawah ambang batas 4,5%, memperpanjang penurunan agresif dari sesi sebelumnya, setelah data baru menantang pandangan jangka panjang konsumen AS yang tangguh.
Data terbaru mendukung prospek The Fed akan menurunkan suku bunga tahun ini, untuk mengatasi ekonomi yang melambat. Hal itu memperbesar dampak pembacaan yang lemah dalam komponen data inflasi produsen, yang diteruskan ke indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE).
"Minggu ini, di AS, para pedagang akan memantau dengan cermat risalah FOMC (Federal Open Market Committee) dan pernyataan dari beberapa pejabat The Fed. Ini untuk mendapatkan wawasan tentang prospek kebijakan Bank Sentral AS," kata Andry dalam keterangan di Jakarta, Senin (17/02/2025).

