Ingin Capai Pertumbuhan Ekonomi 8%, RI Harus Belajar dari Sejarah
JAKARTA, investortrust.id - Tim Asistensi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Raden Pardede menyebut, untuk bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi 8%, penting bagi Indonesia untuk belajar dari sejarah. Pasalnya, Indonesia pernah mencapai pertumbuhan ekonomi 8% di masa lalu.
Bank Dunia mencatat, Indonesia pernah lima kali mencapai pertumbuhan ekonomi di level 8% atau lebih selama masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Pada 1968, pertumbuhan ekonomi Indonesia bahkan mencapai 10,9%.
Baca Juga
“Sebetulnya kita harus belajar dahulu dari apa pengalaman yang lalu. Saya mempelajari ini dengan serius, tahun 1945 sampai sekarang. Jadi kalau ditanya ke 8%, ya coba belajar dahulu dari sejarah kita. Toh kita sudah pernah ke arah itu,” kata Raden dalam acara seminar Economic Outlook 2025 dengan tema 'Menggali Sumber Ekonomi Potensial Menuju Pertumbuhan 8%' yang digelar investortrust.id di Jakarta, Kamis (13/2/2025).
Raden memaparkan, beberapa kali pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 8% juga sebetulnya tak lepas dari faktor keberuntungan. Adapun keberuntungan yang dimaksud adalah booming komoditas, seperti pada 1968 dengan minyak dan gas bumi.
“Tahun 1970-an kita dapat keberuntungan akibat dari harga minyak. Tahun 1980-an juga begitu. Namun, kemudian kita turun juga harga minyak dan gas yang sangat signifikan mengakibatkan kita terseok-seok. Yang kemudian kita melakukan reform pada 1980-an, kita berorientasi ekspor dan investasi yang sangat besar,” ujar dia.
Lebih lanjut dia menerangkan, manufaktur menjadi kunci pada 1980-an sampai 1990. Kondisi ini membuat ekonomi Indonesia bertumbuh rata-rata 7,3%. Bahkan mencapai 8,2% pada 1995.
“Jadi kalau dikatakan mau ke 8%, acuan kita kenapa enggak kita pelajari apa yang kita lakukan pada 1980-an? Jadi teman-teman di Kementerian Perindustrian coba pelajari. Saya waktu itu sudah pegawai di Kemenperin tahun 80-an. So I know that. Jadi banyak yang bisa dipelajari,” sebut Raden.
Baca Juga
OJK Ungkap Target Pertumbuhan Kredit Bank 9-11% Masih Realistis
Kendati demikian, Raden mencermati bahwa tidak semua boom komoditas itu baik. Sebab, bisa juga hal itu menjadi kutukan yang membuat suatu negara hanya mengandalkan komoditas sumber daya alam tersebut, sehingga tidak ada inovasi atau perkembangan.
“Karena cenderung kalau kita kaya, jadi malas dan kita malas berpikir dan bertindak dengan benar. That's the problem. Untuk menjadi maju, kita tidak boleh mengandalkan komoditas dan sumber daya alam, melainkan harus terbuka dinamis dengan teknologi baru,” ucap Raden.

