Rachmat Gobel: Indonesia Harus Belajar dari AS untuk Bangun Industri Sendiri
OSAKA, investortrust.id - Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia–Jepang, Rachmat Gobel, mengajak Indonesia untuk mengambil langkah serius dalam melindungi pasar dalam negeri dari serbuan produk asing, di tengah situasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.
Gobel menyebut pemerintah Indonesia memiliki pekerjaan rumah (PR) untuk mengantisipasi potensi masuknya produk-produk asal China ke Tanah Air, imbas perang dagang dengan AS. Bahkan pengusaha itu menekankan bahwa pemerintah Indonesia perlu mencontoh langkah protektif yang diambil AS melalui kebijakan America First.
“Kenapa Amerika melakukan hal itu? Karena dia ingin membangun kekuatan negaranya, dia ingin mendorong industri-industri dalam negeri,” tegasnya kepada investortrust.id di sela-sela acara Osaka Expo 2025, Osaka, Jepang, Selasa (15/4/2025).
Gobel turut menyoroti bahwa sejauh ini Indonesia masih bergantung pada impor untuk berbagai sektor industri, mulai dari tekstil, elektronik, hingga produk kerajinan tangan seperti mebel. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah seperti kayu dan rotan.
“Kenapa kita tidak membangun? Padahal kita punya kekuatan. Jadi PR kita besar,” kata Politisi Partai NasDem itu.
Saat ditanya peluang untuk menarik relokasi pabrik-pabrik Jepang dari Vietnam ke Indonesia, Gobel menyebut hal itu sangat mungkin terjadi. Terlebih dengan adanya perubahan kebijakan ekonomi global sejak era pemerintahan Donald Trump.
“Kalau pemerintah serius, fokus kepada untuk betul-betul membangun industri, Malaysia juga bisa, negara ASEAN juga bisa. Banyak yang bisa kita tutup,” jelasnya.
Paviliun Indonesia berbentuk perahu pinisi dan mengambil tema Thriving in Harmony, yang menampilkan Nature, Culture, dan Future. Saat memasuki lobi, pengunjung akan melihat berbagai topeng kayu yang dipajang di dinding. Setelah itu akan memasuki ruangan yang didesain seperti di hutan dengan tanaman asli Indonesia serta seni instalasi binatang langka di Indonesia karya seniman top Indonesia seperti Nyoman Nuarta, Nasirun, dan lalin-lain. Lalu pengunjung akan memasuki ruang immersive yang menampilkan lanskap kekayaan alam dan budaya Indonesia. Kemudian pengunjung akan memasuki koridor yang menampilkan foto wajah-wajah Indonesia dengan asesoris khas, salah satunya foto Presiden Prabowo Subianto.
Selanjutnya memasuki ruang wastra, yang menampilkan kain tradisional Indonesia. Sedangkan tema masa depan Indonesia menampilkan denah lanskap Ibu Kota Nusantara. Akhirnya, ada ruang teater yang menampilkan sebuah film pendek karya Garin Nugroho. Selain itu juga dikenalkan aneka kuliner Indonesia. Selama enam bulan pameran ini, secara bergiliran Paviliun Indonesia akan memberi kesempatan kepada pemerintah daerah di Indonesia untuk menampilkan seni, budaya, dan produk unggulannya. Selain itu juga ada forum bisnis yang menjadi forum perdagangan dan investasi. Berbeda dengan pameran sebelumnya yang dipimpin kementerian perdagangan, maka kali ini yang memimpin adalah Bappenas.
Sebagai ketua PPIJ, Rachmat Gobel mengajak pimpinan media massa di Indonesia untuk berkunjung ke pameran ini. Selain mengunjungi Paviliun Indonesia, ia juga mengajak melihat Paviliun Panasonic dan Paviliun Sumitomo. Paviliun Panasonic yang mewah sepenuhnya menggunakan bahan daur ulang barang-barang elektronik. Hal ini untuk menunjukkan bahwa produk daur ulang juga memiliki kualitas yang prima. Sedangkan yang dipamerkan adalah tentang visi teknologi masa depan yang makin akrab dengan kehidupan sehari-hari, menyatu dengan spirit manusia, dan memiliki kemampuan interaktif berkat teknologi artificial intelligent (AI). Adapun Sumitomo mengambil tema hutan yang dipadu dengan teknologi AI yang interaktif.
Salah satu yang spektakuler adalah pemanfaatan seni pertunjukan dengan memanfaatkan teknologi proyektor dan layar jaring hingga tiga layer sehingga tampilannya menjadi lima dimensi. Hal ini memungkinkan seni pertunjukan animasi berpadu dengan manusia. Lanskap areal World Expo sendiri menampilkan grand ring dari kayu, yang menghabiskan 18 ribu kubik kayu. Diameter ring 615 m, tinggi ring 12-20 m, lebar garis ring 30 m, panjang ring 2 km. Kayu-kayu tersebut disambung tanpa menggunakan paku dan hanya menggunakan lem. Pilar-pilar balok dengan lebar 42 cm juga bukan dari kayu utuh tapi dari sambungan-sambungan.
“Dengan mengunjungi World Expo ini kita bisa memahami filosofi dan budayanya serta keunggulan dari masing-masing negara peserta maupun dari panitia itu sendiri. Dari situ kita akan belajar sehingga bisa dibawa pulang ke Tanah Air. Kita ingin Indonesia menjadi negara maju, kuat, dan rakyatnya sejahtera,” kata Gobel. (C-13)

