Indef: Prabowo Sukses Jaga Inflasi, Pelemahan Daya Beli Jadi PR
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang telah berjalan 100 hari menunjukkan capaian positif, khususnya dalam menjaga stabilitas inflasi. Namun, pelemahan daya beli menjadi pekerjaan rumah (PR) yang harus segera diatasi.
Kepala Center Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economic and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman mengungkapkan, meskipun inflasi mengalami tren peningkatan sejak Januari-Desember 2024, untuk periode November-Desember 2024 cenderung stabil.
“Dan angka ini, tingkat inflasi ini mencerminkan 100 hari Pak Prabowo ini dalam mengelola stabilitas harga, khususnya yang volatil, cenderung sudah mencerminkan keberhasilan pemerintah gitu ya,” ujarnya, diskusi publik berjudul ‘100 Hari Asta Cita Ekonomi, Memuaskan?’ yang digelar Indef secara daring, Rabu (29/1/2025).
Sejumlah faktor utama yang menopang keberhasilan ini adalah pengelolaan pasokan pangan yang semakin membaik, kebijakan stabilitas harga komoditas global, serta langkah-langkah strategis pemerintah dalam menghadapi dinamika ekonomi, termasuk kebijakan terkait Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 12% yang sempat menjadi polemik.
Meski begitu, Rizal mengatakan bahwa tantangan ke depan masih tidak mudah. Implementasi PPN 12% berpotensi memberikan dampak terhadap inflasi, khususnya pada barang-barang mewah. Selain itu, permintaan domestik juga masih relatif lemah, yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Tentu permintaan domestik juga menjadi catatan di dalam menjaga stabilitas inflasi ini. “Kalau kita buka lagi berkaitan dengan komponen inflasi, bahwa stabilitas inflasi meskipun tadi disampaikan positif, tapi tetap masih memperlihatkan lemahnya permintaan domestik yang tentu akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Kebijakan yang mampu mendorong konsumsi dalam negeri penting, termasuk memperkuat daya beli," kata dia..
Baca Juga
100 Hari Kerja, Prabowo Terima Kasih kepada Jajaran Kabinet Merah Putih
Menurut catatan Indef, lanjut Rizal, ada variasi tingkat inflasi di berbagai daerah. Beberapa wilayah seperti Papua mencatat inflasi di atas 1%, sementara Jawa dan Bali lebih terkendali dengan inflasi di bawah 5%. Perbedaan ini mencerminkan tantangan dalam pengelolaan harga antarwilayah, yang dipengaruhi oleh faktor geografis, infrastruktur, dan efisiensi distribusi.
“Ini menjadi catatan penting bagaimana pemerintah yang mampu menjawab perbedaan kondisi tersebut dengan tentu saja membangun infrastruktur yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kemudian bagaimana juga termasuk di dalam nilai tukar,” ucapnya.
Tren nilai tukar rupiah sendiri sejak Oktober 2024 hingga Januari 2025 menunjukkan stabilitas, meskipun sempat mengalami pelemahan. Stabilitas ini penting untuk menjaga daya saing ekspor di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Sehingga keberlanjutan stabilitas ini juga sangat tergantung pada respon government terhadap tekanan eksternal ini atau global ini dan juga pengelolaan fiskal yang jauh lebih efisien,” ujar Rizal.
Baca Juga

