Kemenkeu Sudah Prediksi Diskon Tarif Listrik Akan Sebabkan Deflasi
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah memprediksi dampak dari pemberian diskon tarif listrik ke rumah tangga sebesar 50% memberi efek ke deflasi Februari 2025. Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi pada Februari 2025 sebesar 0,48% secara bulanan dan 0,09% secara tahunan.
“Diskon tarif listrik yang diberikan akan menyebabkan angka inflasi yang rendah dalam beberapa bulan ke depan,” kata Febrio dalam keterangan resminya, diakses Selasa (4/3/2025).
Sebagai kebijakan stimulus ekonomi untuk menjaga daya beli masyarakat, kebijakan ini berdampak pada tren deflasi komponen harga yang diatur pemerintah. Pada Februari 2025, komponen ini mengalami deflasi sebesar 9,02% secara tahunan. Inflasi yang tercatat terjadi pada tarif air minum PAM dan rokok.
Baca Juga
Ini 7 Komoditas Penyumbang Deflasi Secara Bulanan pada Februari 2025
Komponen inflasi pangan bergejolak (volatile food) terpantau mulai melandai karena harga pangan yang terus terkendali. BPS mencatat inflasi di komponen ini sebesar 0,56%.
Sementara itu, untuk komponen inflasi inti masih tren penguatan masih berlanjut mencapai 2,48% didorong oleh kelompok perawatan pribadi dan rekreasi.
“Perkembangan inflasi inti diekspektasikan menjadi sinyal daya beli yang terjaga,” kata Febrio.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti sebelumnya membantah adanya pelemahan daya beli menjadi penyebab utama deflasi selama dua bulan. “Bukan karena penurunan daya beli, tetapi karena pengaruh dari diskon tarif listrik yang memberi andil deflasi dua bulan berturut-turut,” ujar Amalia.
Dari sisi manufaktur, Indeks PMI Manufaktur terus menunjukkan tren positif. PMI Manufaktur Indonesia meningkat di level 53,6 pada Februari 2025. PMI Manufaktur Indonesia pada Januari 2025 tercatat sebesar 51,9. Peningkatan PMI Manufaktur Indonesia di level 53,6 ini menjadi yang tertinggi selama 11 bulan.
“Meskipun perekonomian global dan situasi geopolitik saat ini membawa tantangan besar dan sulit diprediksi, capaian ini memberikan harapan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah tetap antisipatif terhadap perubahan kondisi global dan terus memperkuat kebijakan untuk mendukung sektor manufaktur serta mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Febrio.

