BPS: Inflasi Bulanan Komoditas Pangan Ini Tertinggi Selama 5 Tahun Terakhir
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat beberapa komoditas pangan mengalami inflasi tertinggi selama lima tahun terakhir untuk lima tahun terakhir. Komoditas yang masuk dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau ini kembali mengalami inflasi 1,94% dengan andil inflasi 0,56% pada Januari 2025.
“Secara umum pada Januari, sepanjang 2021-2024 tingkat inflasi kelompok ini biasanya lebih rendah pada bulan Desember,” kata Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (3/2/2025).
Inflasi yang terjadi pada Januari 2025 lebih tinggi dari inflasi pada bulan yang sama tahun lalu yang sebesar 0,18% secara bulanan. Angka ini juga lebih tinggi dari inflasi pada Januari 2022 yang tercatat BPS sebesar 1,17% secara bulanan.
Amalia mengatakan beberapa komoditas utama penyumbang inflasi Januari 2025 yaitu kelompok komoditas cabai merah, cabai rawit, dan minyak goreng. Berdasarkan data yang dipaparkan, inflasi cabai merah secara bulanan mencapai 61,67% secara bulanan. Inflasi cabai rawit mencapai 65,84% secara bulanan, dan inflasi minyak goreng mencapai 2,27% secara bulanan.
Baca Juga
Masih di Atas Target Fed, Inflasi Inti PCE AS Desember Naik 2,8% YoY
Sementara itu, andil inflasi tiga komoditas tersebut tercatat masing-masing sebesar 0,19%, 0,17%, dan 0,03% secara bulanan.
BPS mengumumkan terjadinya deflasi secara bulanan dan tahun kalender pada Januari 2025 sebesar 0,76%. Deflasi secara bulanan pada Januari 2025 terjadi karena turunnya Indeks Harga Konsumen (IHK) 106,8 pada Desember 2024 menjadi 105,99 pada Januari 2025.
“Pada Januari 2025, angka deflasi secara bulanan dan tahun kalender akan sama karena pembandingnya sama yaitu di bulan Januari 2025,” kata dia.
Deflasi bulanan yang terjadi pada Januari 2025 ini merupakan yang pertama setelah terakhir terjadi pada September 2024.
Amalia mengatakan kelompok komoditas penyumbang inflasi terbesar yaitu perumahan, air, listrik, bahan bakar rumah tangga yang mengalami deflasi sebesar 9,16% secara bulanan dengan andil deflasi 1,44%. Komoditas yang mendorong deflasi kelompok ini adalah tarif listrik yang andilnya ke deflasi sebesar 1,47%.

