Masalah Perdagangan Dunia Bukan dengan AS, tapi China
JAKARTA, investortrust.id - Masalah perdagangan dunia saat ini bukan dengan Amerika Serikat, tapi dengan China. Defisit neraca perdagangan India yang sangat besar dengan Tiongkok dinilai karena negara yang menganut sistem komunis itu memberikan subsidi perdagangan dan melakukan dumping.
Hal itu dikatakan Menteri Luar Negeri (Menlu) India Dr Subrahmanyam Jaishankar, menjawab pertanyaan Investortrust.id mengenai pandangan atas issue proteksionisme dalam perdagangan global akibat kebijakan Presiden AS Donald Trump yang baru saja dilantik. “Apa yang terjadi di banyak belahan dunia adalah adanya kekecewaan yang besar terhadap model perdagangan saat ini, karena terkadang merasa perdagangan bebas bukanlah perdagangan yang adil. Salah satu masalah terbesar dalam rezim perdagangan sekarang adalah non-market economies memberikan subsidi perdagangan dan melakukan dumping di pasar lain. Jadi, jika ada yang berbicara tentang issue AS yang proteksionis, saya mengatakan masalah perdagangan terbesar India bukanlah AS, masalah perdagangan terbesar kami adalah Tiongkok,” katanya dalam diskusi dengan para pemred dari Indonesia, di India, Minggu (26/01/2025).
Baca Juga
India mempunyai defisit neraca perdagangan yang sangat besar dengan Tiongkok. Jika ada pihak-pihak yang berbicara tentang akses pasar, kata Jaishankar, maka harus melihat apa akses pasar mereka terhadap Tiongkok. Jadi, semua pihak perlu mendiagnosa masalahnya dengan baik.
Jaishankar menegaskan, ada masalah saat ini dalam situasi perdagangan dunia yakni negara-negara yang produksinya banyak tidak membuka pasarnya bagi negara lain. Selain itu, ketika mereka mengekspor ke suatu negara, sering industri di negara tersebut dirugikan.
“Jika saya bertanya kepada industri saya saat ini, apa kekhawatiran terbesar Anda? Kekhawatiran mereka bukanlah Amerika, kekhawatiran mereka adalah Tiongkok. Jadi, izinkan saya menjelaskan apa yang menjadi kekhawatiran dunia, dan menurut saya itu adalah kekhawatiran yang lebih besar,” ujar Jaishankar.
Hal lain, lanjut Jaishankar, CIA menjadi badan yang sangat berguna dalam masalah tersebut. Badan intelijen AS ini sangat aktif.
Follow Up CEO Forum ke Indonesia
Mengenai follow up CEO Forum India-Indonesia yang telah diselenggarakan pada 25 Januari 2025 di India, Jaishankar mengatakan, duta besar sudah setuju untuk mengadakan CEO Forum lanjutan di Indonesia. Sekitar 100 pengusaha RI yang bergabung dalam Kadin Indonesia telah menghadiri forum bisnis penting tersebut.
“Jadi, saya yakin dia (duta besar) akan menindaklanjuti dan mengurusnya,” ucap Jaishankar.
Direct Flight India-Indonesia
Jaishankar juga sepakat untuk bekerja sama meningkatkan pariwisata Indoesia. Saat ini, India merupakan salah satu sumber turis terbaik untuk Singapura, Thailand, dan Malaysia.
Ia mengatakan, jumlah turis asal India yang berkunjung ke Indonesia pasti bisa ditingkatkan. “Namun untuk menambah jumlah, Anda memerlukan dua hal. Ya, benar yang Anda katakan, yaitu satu bahwa penerbangan langsung lebih banyak dan kami baru saja menyelesaikan negosiasi layanan angkutan udara. Kita sedang mencari lebih banyak kursi dan lebih banyak penerbangan. Namun, akan membantu juga jika kita mempunyai sistem visa yang mudah,” tuturnya.
Baca Juga
India Berpotensi Tanam Modal di Pelabuhan dan Bandara Indonesia
Malaysia dan Thailand, lanjut dia, telah menghapuskan visa untuk orang India. Hal itu sangat menarik minat masyarakatnya untuk berkunjung ke kedua negara tetangga Indonesia di ASEAN tersebut.
“Tapi, yang pasti, kemarin kita sempat berdiskusi singkat bagaimana cara meningkatkan pariwisata. Ini adalah sesuatu yang kami ingin kerjakan dengan mitra kami di Indonesia. Ketika semakin banyak orang India mengetahui sejarah budaya Indonesia, saya rasa akan ada banyak minat untuk pergi ke sana,” tandasnya. (pd)

