Indonesia Alami Defisit Perdagangan dengan China, Tapi Surplus dengan AS
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami surplus perdagangan sebesar US$ 24,43 miliar secara kumulatif pada periode Januari-Oktober 2024. Angka ini lebih rendah dari catatan surplus periode Januari-Oktober 2023 yang tercatat sebesar US$ 31,19 miliar.
“Jika dilihat lebih rinci, secara kumulatif neraca perdagangan nonmigas mengalami surplus US$ 41,82 miliar. Sementara neraca perdagangan migas mengalami defisit US$ 17,39 miliar,” ujar Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, di kantornya, Jakarta, Jumat (15/11/2024).
Amalia menjelaskan defisit neraca perdagangan kumulatif terbesar Indonesia dengan China. Selama periode Januari-Oktober 2024, Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 9,62 miliar. Dari paparannya, tampak ekspor Indonesia ke China tercatat sebesar US$ 48,19 miliar dan impor tercatat sebesar US$ 57,81 miliar.
Komoditas penyumbang defisit terdalam dengan China antara lain komoditas mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya, dengan total impor sebesar US$ 13,53 miliar, mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya sebesar US$ 11,6 miliar, dan plastik dan barang dari plastik sebesar US$ 2,6 miliar.
Baca Juga
Surplus Neraca Perdagangan 54 Bulan Beruntun, Capai US$ 2,48 Miliar Oktober
Indonesia juga mengalami defisit perdagangan dengan dua negara lainnya, yaitu Australia dan Thailand. Defisit perdagangan Indonesia dengan dua negara tersebut masing-masing tercatat sebesar US$ 3,94 miliar dan US$ 3,46 miliar.
Sementara itu, selama periode Januari-Oktober 2024, Indonesia justru membukukan surplus perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 13,55 miliar. Surplus ini disumbang oleh nilai ekspor yang tercatat sebesar US$ 21,5 miliar dengan impor sebesar US$ 7,96 miliar.
“Ini didorong oleh komoditas mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, pakaian dan aksesoris rajutan, dan alas kaki,” ujar dia.
Baca Juga
Ini Negara Penyumbang Surplus dan Defisit Perdagangan September
Selain AS, surplus perdagangan juga dibukukan dengan dua negara mitra dagang utama Indonesia yaitu India dan Filipina. Surplus dengan India tercatat sebesar US$ 13,24 miliar.
“Didorong oleh komoditas bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan/nabati, dan besi dan baja,” jelas dia.
Sementara untuk Filipina, surplus tercatat sebesar US$ 7,43 miliar. Komoditas penyumbang surplus ke Filipina antara lain bahan bakar mineral, kendaraan dan bagiannya, serta berbagai makanan olahan.

