Surplus Perdagangan China Melonjak, tapi Ekspor ke AS Anjlok Hampir 29%
Poin Penting
- Penurunan ekspor China ke AS berlanjut selama delapan bulan dan mencapai -28,6% pada November.
- Pertumbuhan ekspor global China pulih menjadi +5,9%, jauh melampaui ekspektasi pasar.
- Surplus dagang Tiongkok membengkak ke US$1,076 triliun, naik lebih dari 21% yoy.
- Beijing diperkirakan mempertahankan target pertumbuhan “sekitar 5%” untuk 2026, disertai stimulus fiskal tambahan.
BEIJING, investortust.id - Data perdagangan terbaru China menghadirkan dua wajah yang kontras. Di satu sisi, ekspor global Negeri Tirai Bambu bangkit lebih kuat dari perkiraan. Namun di sisi lain, perdagangan Tiongkok–Amerika Serikat justru memasuki fase pelemahan paling tajam dalam delapan bulan terakhir.
Baca Juga
Menurut rilis bea cukai Beijing, ekspor China pada November melonjak 5,9% secara tahunan, melampaui proyeksi Reuters sebesar 3,8% dan menjadi titik balik penting setelah kontraksi tak terduga pada bulan Oktober. Impor naik 1,9%, masih di bawah perkiraan, menegaskan bahwa pemulihan permintaan domestik tetap rapuh.
Namun sorotan terbesar pasar adalah jurang yang kian melebar antara dua ekonomi terbesar dunia. Ekspor China ke AS merosot 28,6%, memperpanjang rangkaian penurunan dua digit yang telah berlangsung sejak awal tahun. Padahal, Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump baru saja mencapai kesepakatan dagang di Korea Selatan pada akhir Oktober.
“Meski ada jeda ketegangan, tarif AS terhadap produk China tetap jauh lebih tinggi dibanding negara lain, sehingga eksportir China masih memilih menyalurkan barang melalui fasilitas di negara ketiga,” ujar Gary Ng, Ekonom Senior Natixis, seperti dikutip CNBC.
Tarif efektif produk China ke AS diperkirakan masih sekitar 47,5%, jauh di atas rata-rata global. Sebaliknya, Beijing mempertahankan tarif sekitar 32% terhadap produk Amerika.
Namun kemerosotan ekspor ke AS bukanlah cerita utama pemulihan Tiongkok. Kenaikan pengiriman ke pasar ASEAN dan Uni Eropa—masing-masing 8% dan hampir 15%—telah lebih dari cukup untuk menutup suramnya permintaan Amerika.
Sejak Januari hingga November, surplus dagang Tiongkok mencapai US$1,076 triliun, melonjak 21,6% dibanding tahun sebelumnya. Surplus inilah yang membantu menjaga stabilitas pertumbuhan di tengah krisis properti berkepanjangan dan lemahnya konsumsi dalam negeri.
Di tengah dinamika itu, Beijing akan menggelar Central Economic Work Conference bulan ini untuk merumuskan target pertumbuhan 2026. Banyak ekonom memperkirakan target akan tetap di sekitar 5%, yang berarti pemerintah perlu menggulirkan stimulus fiskal lebih agresif pada awal tahun.
Baca Juga
Meski pertumbuhan ekspor kembali naik, tanda-tanda tekanan masih terlihat. Aktivitas manufaktur menyusut untuk bulan kedelapan, sementara permintaan domestik tetap tertekan. Penguatan yuan sekitar 5% sejak April juga belum cukup untuk mendorong konsumsi rumah tangga, meski dapat meningkatkan daya beli impor.
“China perlu menyeimbangkan kembali mesin pertumbuhan dari ekspor ke konsumsi domestik, bila ingin mencapai ekspansi berkelanjutan,” tulis Weijian Shan, CEO PAG, dalam sebuah opini. Ia menilai penguatan yuan dapat membantu mendorong kontribusi konsumsi terhadap PDB hingga 86%, level yang dianggap lebih ideal.

