Trump Usung "America First", Bagaimana Dunia Harus Bereaksi?
Oleh Teguh Anantawikrama,
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bidang Teknologi dan Transformasi Digital
serta Pendiri Indonesian Tourism Investors Club (ITIC)
INVESTORTRUST.ID - Doktrin “America First” yang diperjuangkan oleh Donald Trump selama masa kepresidenannya dan digaungkan dalam retorikanya, lebih dari sekadar slogan politik. Ini adalah cerminan dari perubahan paradigma global.
Hal itu menandakan kalibrasi ulang peran Amerika Serikat dalam tatanan internasional. AS di bawah komando Trump menekankan unilateralisme dibandingkan multilateralisme, dan kepentingan nasional ketimbang kerja sama global.
Baca Juga
Bagi negara seperti Indonesia, perubahan ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Meski AS mulai menjauh dari peran kepemimpinan tradisionalnya, negara-negara dengan keunggulan strategis dan potensi yang belum dimanfaatkan seperti Indonesia, dapat menggunakan momen ini untuk mempercepat pertumbuhan dan pengaruh di kancah global.
Bagaimana Memaksimalkan Peluang?
Pertanyaannya, bagaimana Indonesia dapat memaksimalkan peluang tersebut? Hal ini setidaknya bisa dilakukan dengan enam cara strategis.
1. Menjadikan Indonesia Pemimpin Regional Utama
Ketika Amerika Serikat memprioritaskan isu-isu dalam negeri, terdapat kekosongan dalam kepemimpinan global dan regional. Indonesia, sebagai negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara dan anggota utama ASEAN, memiliki posisi yang baik untuk mengambil langkah maju.
Indonesia perlu mengambil peran kepemimpinan yang proaktif dalam inisiatif regional. Indonesia dapat membentuk masa depan Asia Tenggara di bidang perdagangan, keamanan, dan inovasi, serta memastikan kepentingannya berada di garis depan kebijakan regional.
Kepemimpinan ini dapat diperkuat melalui inisiatif yang dipimpin ASEAN. Ini seperti Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), yang sejalan dengan tujuan Indonesia untuk memperdalam integrasi perdagangan.
2. Memperluas Kemitraan Global Indonesia
“America First” menciptakan tatanan global yang lebih terfragmentasi, di mana negara-negara berkembang akan mendapatkan pengaruhnya. Untuk itu, Indonesia harus memanfaatkan keikutsertaan dalam BRICS, guna memperkuat kemitraan dengan negara-negara seperti Tiongkok, India, Rusia, Brasil, dan Afrika Selatan. Hubungan ini dapat membuka pintu menuju pasar baru, investasi, dan transfer teknologi.
Baca Juga
Selain itu, Indonesia harus mengintensifkan upaya untuk mendiversifikasi mitra perdagangan dan investasi. Hal ini dilakukan dengan menjalin hubungan lebih erat dengan Uni Eropa, Afrika, dan Amerika Latin, sambil mempertahankan hubungan yang kuat dengan sekutu lama seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia.
3. Meningkatkan Ketahanan Dalam Negeri
Sumber daya alam Indonesia yang kaya, angkatan kerja muda, dan lokasinya yang strategis menjadikan Indonesia memiliki posisi yang unik untuk mengurangi ketergantungan pada pasar eksternal. Dengan fokus pada industrialisasi, Indonesia dapat memberikan nilai tambah pada sumber daya alamnya, dibandingkan mengekspornya sebagai bahan mentah. Pengolahan hilir mineral seperti nikel untuk baterai kendaraan listrik adalah contoh utama bagaimana Indonesia dapat mengintegrasikan dirinya ke dalam rantai pasokan global.
Selain itu, investasi pada energi terbarukan, infrastruktur digital, dan pertanian berkelanjutan tidak hanya akan meningkatkan ketahanan dalam negeri. Investasi ini juga meningkatkan daya saing Indonesia di kancah global.
4. Menjadikan RI Pusat Rantai Pasok Global
“America First” telah menciptakan gangguan rantai pasok global, di mana Trump berencana menaikkan tinggi tarif impor produk Tiongkok. Perusahaan pun mencari alternatif produksi yang tidak bergantung pada Tiongkok, yang selama ini merupakan eksportir terbesar dunia.
Indonesia dapat memanfaatkan peluang ini dengan memasarkan diri sebagai pusat manufaktur dan logistik yang andal. Dengan reformasi kebijakan yang ditargetkan, pembangunan infrastruktur, dan insentif bagi investor asing, Indonesia dapat menarik perusahaan yang mencari solusi rantai pasokan yang terdiversifikasi.
Pembangunan kawasan ekonomi baru yang sedang berlangsung, seperti Kawasan Industri Terpadu Batang, harus dipercepat untuk memenuhi permintaan global.
5. Perjuangkan Kepemimpinan Mitigasi Perubahan Iklim
Ketika perhatian global beralih ke pembangunan berkelanjutan, Indonesia mempunyai peluang untuk menunjukkan kepemimpinannya dalam aksi mitigasi perubahan iklim. Dengan berkomitmen pada tujuan pengurangan karbon yang ambisius dan memanfaatkan potensi energi terbarukan yang sangat besar, Indonesia dapat memposisikan diri sebagai pemimpin global dalam bidang keberlanjutan.
Hal ini tidak hanya meningkatkan kedudukan Indonesia di tingkat internasional, tetapi juga menarik investasi di teknologi dan industri ramah lingkungan.
6. Memperkuat Diplomasi Publik
Lokasi Indonesia yang strategis, keragaman budaya, dan statusnya sebagai negara mayoritas muslim terbesar di dunia memberikan kekuatan lunak (soft power) yang signifikan. Kampanye diplomasi publik yang menyoroti kontribusi Indonesia terhadap perdamaian global, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan dapat meningkatkan pengaruh globalnya.
Hal ini sangat penting, karena Amerika menarik diri dari peran tradisionalnya sebagai pemersatu global.
Paradigma Pertumbuhan Baru RI
Jadi, doktrin “America First” yang diusung Trump ini merupakan tantangan terhadap tatanan global yang sudah mapan, sekaligus merupakan undangan bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia untuk bangkit. Dengan menegaskan kepemimpinannya dalam inisiatif regional dan global, mendiversifikasi kemitraan, dan berinvestasi pada kemampuan dalam negeri, Indonesia dapat mengubah pergeseran geopolitik ini menjadi batu loncatan untuk mempercepat pertumbuhan.
Inilah saatnya bagi Indonesia untuk melangkah maju, tidak hanya sebagai kekuatan regional, namun sebagai negara yang siap membentuk tatanan global baru. Mari kita gunakan kesempatan tersebut untuk menunjukkan ketahanan, kreativitas, dan komitmen kita terhadap masa depan bersama yang berkelanjutan. (pd)

