Rencana Trump Terbaru Picu Penurunan Harga Minyak
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak dunia mengalami penurunan sebesar 0,14% ke posisi US$ 80,04 per barel, pada Selasa (21/1/2025). Pelemahan ini dipicu pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mengungkapkan rencananya untuk meningkatkan produksi minyak dan gas AS.
Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) menganalisis, rencana tersebut bertujuan untuk mempercepat produksi energi di AS. Hal itu dilakukan dengan memperlonggar proses perizinan dan memperluas infrastruktur energi yang dapat meningkatkan pasokan domestik dan menurunkan harga.
"Selain itu, reaksi pasar dipengaruhi oleh faktor geopolitik yang lebih luas, termasuk meredanya ketegangan di Timur Tengah. Gencatan senjata antara Hamas dan Israel, yang ditandai dengan pertukaran sandera, berkontribusi pada prospek yang lebih stabil di kawasan tersebut, yang selama ini menjadi faktor kunci dalam fluktuasi harga minyak," tulis riset ICDX, Selasa (21/1/2025).
Cina Tumbuh 5,4%
Sementara itu, pengumuman data ekonomi positif dari Cina dengan pertumbuhan tahunan 5,4% year on year pada kuartal IV-2024 dinilai membantu meredakan penurunan harga minyak. Hal ini mengingat negara dengan ekonomi terbesar kedua dan penduduk terbanyak kedua itu tetap menjadi pengimpor minyak terbesar di dunia.
"Meski penurunan harga terjadi, pasar minyak tetap volatile dipengaruhi oleh dinamika pasokan global dan perubahan kebijakan AS. Meski dorongan Trump untuk meningkatkan produksi domestik dapat menekan harga, kekuatan ekonomi yang terus berlanjut di Cina dan stabilisasi di Timur Tengah dapat memberikan efek penyeimbang. Hal ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga kemungkinan akan terus terjadi dalam waktu dekat," kata riset tersebut.
Melihat dari sudut pandang teknis, ICDX memperkirakan harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 83 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif, maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 69 per barel.
Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) menganalisis, rencana tersebut bertujuan untuk mempercepat produksi energi di AS. Hal itu dilakukan dengan memperlonggar proses perizinan dan memperluas infrastruktur energi yang dapat meningkatkan pasokan domestik dan menurunkan harga.
"Selain itu, reaksi pasar dipengaruhi oleh faktor geopolitik yang lebih luas, termasuk meredanya ketegangan di Timur Tengah. Gencatan senjata antara Hamas dan Israel, yang ditandai dengan pertukaran sandera, berkontribusi pada prospek yang lebih stabil di kawasan tersebut, yang selama ini menjadi faktor kunci dalam fluktuasi harga minyak," tulis riset ICDX, Selasa (21/1/2025).
Baca Juga
Cina Tumbuh 5,4%
Sementara itu, pengumuman data ekonomi positif dari Cina dengan pertumbuhan tahunan 5,4% year on year pada kuartal IV-2024 dinilai membantu meredakan penurunan harga minyak. Hal ini mengingat negara dengan ekonomi terbesar kedua dan penduduk terbanyak kedua itu tetap menjadi pengimpor minyak terbesar di dunia.
"Meski penurunan harga terjadi, pasar minyak tetap volatile dipengaruhi oleh dinamika pasokan global dan perubahan kebijakan AS. Meski dorongan Trump untuk meningkatkan produksi domestik dapat menekan harga, kekuatan ekonomi yang terus berlanjut di Cina dan stabilisasi di Timur Tengah dapat memberikan efek penyeimbang. Hal ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga kemungkinan akan terus terjadi dalam waktu dekat," kata riset tersebut.
Baca Juga
Melihat dari sudut pandang teknis, ICDX memperkirakan harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 83 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif, maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 69 per barel.

