JAKARTA, investortrust.id 
- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyoroti tingkat ketimpangan antarpenduduk yang masih tinggi, meski tingkat kemiskinan pada September 2024 menurun. Melihat itu, kata dia, pemerintah akan terus mendorong terciptanya kelas menengah lebih banyak dan mendorong belanjanya.


“Makanya, arahan Bapak Presiden (Prebowo Subianto) kita harus mendongkrak kelas menengah,” kata Airlangga, di kantornya, Jumat (17/1/2025).

Baca Juga

Dana Asing Lanjut Masuk, Simak Saham Komoditas Hari Ini


UMKM dan Pekerja Formal
Airlangga menggambarkan kelas menengah umumnya bekerja di sektor formal serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Untuk mendorongnya, pemerintah menyiapkan paket kebijakan yang bersentuhan dengan sektor tersebut.


Misalnya, kata Airlangga, pemerintah akan menanggung Pajak Penghasilan (PPh) kelas menengah yang bekerja di sektor industri padat karya. Mereka yang ditanggung PPh-nya memiliki gaji paling besar Rp 10 juta.


“Sehingga, itu akan mendorong daya beli,” ucap dia.

Baca Juga

Orang Kaya Belanja di Mancanegara, Perputaran Uang di Indonesia Menguap Ratusan Triliun


Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kemiskinan September 2024 menurun. Pada September 2024, tingkat kemiskinan sebesar 8,57% atau turun dari Maret 2024 yang tercatat sebesar 9,03%.


Tetapi, gini ratio atau angka ketimpangan yang diukur mengalami kenaikan. Gini ratio pada Maret 2024 sebesar 0,379. Sedangkan terbaru per September 2024, angka itu berada di level 0,381.


“Untuk indeks kesenjangan ini harus kita perbaiki,” kata dia.

Rokok Penyumbang Kemiskinan
Sementara itu, berdasarkan data BPS, jumlah penduduk miskin pada September 2024 sebesar 24,06 juta orang. Angka ini menurun 1,16 juta orang dibanding pada Maret 2024. 


Garis kemiskinan pada September 2024 tercatat sebesar Rp 595.242 per kapita per bulan. Angka ini terdiri dari garis kemiskinan makanan sebesar Rp 443.433 dan garis kemiskinan bukan makanan sebesar Rp 151.809.


Rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4,71 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian, besaran garis kemiskinan per rumah tangga rata-rata adalah Rp 2.803.590 per bulan.


"Beras dan rokok filter menjadi dua komoditas yang memberi sumbangan besar terhadap garis kemiskinan di perkotaan dan perdesaan. Sementara, komoditas nonmakanan yang menjadi penyumbang terbesar yaitu, perumahan, bensin, dan listrik," papar BPS.