Cina-India Berpengaruh Besar terhadap Pertumbuhan Negara Berkembang
JAKARTA, investortrust.id - Bank Dunia menyatakan negara-negara berkembang juga telah menjadi sumber penting arus modal global, remitansi, dan bantuan pembangunan bagi negara-negara berkembang lainnya. Tahun 2019-2023, negara berkembang menyumbang 40% dari remitansi global, naik dari 30% pada dekade pertama abad ini.
"Akibatnya, negara-negara ini sekarang memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap pertumbuhan dan hasil pembangunan di negara-negara berkembang lainnya. Misalnya, peningkatan 1 poin persentase dalam pertumbuhan PDB (produk domestik bruto) dari tiga negara berkembang terbesar -- Cina, India, dan Brasil -- cenderung menghasilkan peningkatan PDB kumulatif hampir 2% di negara-negara berkembang lainnya setelah tiga tahun," kata Kepala Ekonom dan Wakil Presiden Senior untuk Ekonomi Pembangunan Bank Dunia Indermit Gill, dalam laporan diakses Jumat (17/1/2025).
| PDB negara-negara berkembang anggota BRICS. Infografis: Diolah Riset Investortrust. |
Baca Juga
Namun, kata dia, dampak tersebut hanya sekitar setengah dari dampak pertumbuhan di tiga ekonomi terbesar yaitu Amerika Serikat, Kawasan Euro, dan Jepang. Singkatnya, kesejahteraan ekonomi berkembang masih sangat terkait dengan pertumbuhan di tiga ekonomi maju utama.
“Dalam dunia yang dibentuk oleh ketidakpastian kebijakan dan ketegangan perdagangan, ekonomi berkembang akan membutuhkan kebijakan yang berani dan berjangkauan luas untuk memanfaatkan peluang yang belum dimanfaatkan, untuk kerja sama lintasbatas,” kata Wakil Kepala Ekonom Bank Dunia M Ayhan Kose.
Sementara, dalam laporannya edisi Januari 2025, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ditahan di angka 5,1% untuk 2025 dan 2026. Sementara estimasi untuk 2024, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 5%. Angka ini tidak berubah dari laporan Bank Dunia pada Juni 2024.
Beban Utang Tinggi
Bank Dunia memproyeksi, pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang melambat pada 2025 dan 2026. Hambatan pertumbuhan negara berkembang antara lain beban utang tinggi, pertumbuhan investasi dan produktivitas lemah, dan meningkatnya biaya mengatasi perubahan iklim.
“Sebagian besar kekuatan yang dulu membantu kebangkitan ekonomi negara berkembang telah sirna,” kata Indermit Gill.
Baca Juga
BI Pangkas Bunga Melawan Konsensus, Apa yang Perlu Dicermati?
Indermit menyebut dalam beberapa tahun mendatang, negara-negara berkembang akan membutuhkan pedoman baru yang menekankan reformasi ekonomi domestik. Langkah ini diperlukan untuk mempercepat investasi swasta, memperdalam hubungan dagang, serta mendorong penggunaan modal, talenta, dan energi.
Bank Dunia menegaskan posisi negara-negara berkembang sangat penting bagi ekonomi dunia. Negara berkembang menyumbang sekitar 45% dari PDB global. Posisi negara berkembang juga penting untuk ekspor barang-barang ke negara berkembang lain.

