BI Pangkas Bunga Melawan Konsensus, Apa yang Perlu Dicermati?
Oleh Ezaridho Ibnutama,
NHKSI Chief Economist
INVESTORTRUST.ID - Bank Indonesia memangkas suku bunga acuannya 25 bps ke 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada Rabu (15/1/2025), melawan konsensus yang memperkirakan BI Rate ditahan di tengah melemahnya rupiah. Bank Sentral RI menjadi lebih dovish dan memperketat spread suku bunga kebijakannya dengan Fed Funds Rate yang saat ini 4,25-4,50%.
Menariknya, langkah BI ini dilakukan setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggerebek Kantor BI pada medio Desember 2024. Bank Indonesia diperiksa KPK atas dugaan penyalahgunaan dana corporate social responsibility (CSR).
Baca Juga
KPK Dalami soal Semua Anggota Komisi XI DPR Kecipratan Aliran Dana CSR BI
Investigasi kasus itu dimulai pada September 2024 oleh Direktur Penyidikan (Dirdik) KPK Brigjen Pol Asep Guntur Rahayu. September itu juga merupakan bulan terakhir BI memangkas suku bunga sebelum Januari 2025. Dalam RDG BI bulan Januari ini, Gubernur BI Perry Warjiyo pun menyatakan mengubah stance kebijakannya menjadi lebih “prostabilitas dan pertumbuhan”.
Konsumsi Turun Tekan Pertumbuhan
Keputusan Gubernur BI itu didasari pertimbangan pelemahan ekspor, konsumsi, dan investasi swasta di dalam negeri. Laju inflasi Indonesia sepanjang 2024 hanya 1,57%, terlalu dekat dengan batas bawah target BI yang berkisar 1,5-3,5%. Karena itu, BI menurunkan perkiraan pertumbuhan RI menjadi 4,7-5,5%, dari sebelumnya 4,8-5,6%.
Sementara itu, di Amerika Serikat, penambahan Non-Farm Payroll (Penggajian Non-Pertanian/NFP) AS memang melebihi ekspektasi menembus 256 ribu bulan Desember 2024, jauh di atas konsensus 160 ribu. Tapi, bila melihat detailnya, penambahan sebagian besar lapangan kerja bukan berasal dari sektor swasta, tetapi sektor publik sebagai pegawai pemerintah. Di swasta, pekerjaan yang bertambah di sektor bantuan sosial dan kesehatan, yang memang secara musiman naik di liburan Natal dan akhir tahun.
Mengonfirmasi fenomena NFP yang tidak biasa itu, Consumer Price Index (CPI) AS untuk Desember 2024 tercatat lebih rendah dari perkiraan sebesar 2,6%. Indeks Harga Konsumen (IHK) ini di bawah konsensus 2,9%. Bahkan, selama musim liburan dan penambahan pekerjaan lebih tinggi, orang Amerika 'tidak belanja'.
Oleh karena itu, The Fed tampaknya kemungkinan besar masih akan dovish pada tahun 2025, meski penuruan suku bunga FFR akan berkurang dari yang direncanakan semula pada tahun 2024.
Banjir Kredit Murah
Kembali ke dalam negeri, kami berspekulasi, BI kini lebih aktif memainkan peran sebagai otoritas moneter untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dengan menurunkan suku bunga guna memungkinkan kredit lebih murah membanjiri pasar Indonesia. Hal ini dilakukan di tengah semakin dekat Prabowo Subianto menjabat 100 hari presiden, yang diwarnai kegelisahan pemerintah dalam membelanjakan program untuk menjaga perekonomian bertahan namun belum membuahkan hasil yang berdampak.
Ketika pemerintah menjadi lebih mengganggu perdagangan -- dengan menaikkan pajak dan berinisiatif menegakkan hukum -- maka baik dunia usaha maupun konsumen akan menyambut hangat kredit yang lebih murah. Namun demikian, kondisi pinjaman yang berlebihan oleh keduanya pasti akan membentuk rangkaian mal-investasi di sektor-sektor utama; yang secara historis memang sering terjadi fenomena itu terutama di sektor properti dan infrastruktur.
Sebagaimana menekan konsumsi berarti kualitas yang lebih rendah basis pajak di suatu negara, terjemahan yang sama dapat diterapkan pada warga yang semakin berkualitas rendah sebagai peminjam. Hal ini harus diantisipasi, jangan sampai merugikan negara. ***

