Rupiah Ditutup Melemah Senin
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan transaksi valas pada Senin (13/1/2025) sore. Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah melemah 87 poin (0,53%) ke level Rp 16.281/USD, dibanding pada perdagangan sebelumnya Jumat (10/1/2025) lalu di posisi Rp 16.194/USD.
Sementara dilansir Yahoo Finance, mata uang Garuda bergerak melemah 90 poin (0,56%) ke level Rp 16.269/USD sore ini. Sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp 16.179/USD.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyoroti data ekonomi Amerika Serikat menjadi penyebab tertekannya mata uang Garuda di pasar spot valas. Pada hari Jumat (10/1/2025), data menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS meningkat secara tak terduga pada bulan Desember dan tingkat pengangguran menurun.
"Hal ini mengindikasikan akhir tahun 2024 yang kuat bagi pasar tenaga kerja. Itu mendukung ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tetap bulan ini," kata Ibrahim di Jakarta, Senin (13/1/2025).
Baca Juga
Sanksi atas Minyak Rusia
Selain itu, Departemen Keuangan AS memberlakukan sanksi yang lebih luas terhadap minyak Rusia pada hari Jumat. Sanksi baru tersebut mencakup sanksi kepada produsen Gazprom Neft dan Surgutneftegas, serta 183 kapal yang telah mengirimkan minyak Rusia, yang menargetkan pendapatan yang sebagian telah digunakan Moskow untuk mendanai perangnya dengan Ukraina.
"Fokus sekarang adalah pada data inflasi AS yang akan datang, yang akan dirilis pada hari Rabu, untuk isyarat lebih lanjut tentang prospek suku bunga The Fed. Bank sentral mengisyaratkan bahwa inflasi yang kuat dan kekuatan di pasar tenaga kerja AS akan memberinya lebih banyak dorongan untuk mempertahankan suku bunga tinggi," tandasnya.
Analis Goldman Sachs mengatakan dalam catatan baru-baru ini, mereka sekarang memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga hanya dua kali tahun 2025, dibandingkan ekspektasi sebelumnya tiga kali pemotongan. Suku bunga terminal bank sentral juga diperkirakan akan lebih tinggi dalam siklus pelonggaran tersebut.

