Tunggu Pidato Pejabat The Fed, Kurs Rupiah Ditutup Melemah Senin
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah ditutup melemah pada perdagangan awal pekan, Senin (11/11/2024). Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah melemah 6 poin ke level Rp 15.677/USD, dibanding hari sebelumnya.
Dalam perdagangan di pasar spot valas, sebagaimana dilansir Yahoo Finance, kurs rupiah juga ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Kurs rupiah bergerak melemah 11 poin (0,07%) ke level Rp 15.675/USD hingga pukul 16.50 WIB. Dalam perdagangan sebelumnya, kurs rupiah berada di posisi Rp 15.664/USD.
Sejumlah pejabat Bank Sentral AS dijadwalkan berpidato minggu ini, termasuk Ketua The Fed Jerome Powell pada Kamis, sehingga akan ada banyak arahan tentang prospek suku bunga acuan. Data lain yang akan berpengaruh adalah tingkat harga konsumen AS, yang akan dirilis pada hari Kamis, dan pembacaan inflasi inti di atas 0,3% yang diperkirakan bakal semakin mengurangi kemungkinan pelonggaran pada bulan Desember.
"Semua ini dipandang sebagai hal yang menguntungkan bagi dolar dalam jangka panjang, meski belum terlihat seperti apa kebijakan Trump yang sebenarnya akan diterapkan," ungkap Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam keterangan di Jakarta, Senin (11/11/2024).
Baca Juga
Kebijakan Bank of Japan
Selain itu, ringkasan pendapat dari pertemuan kebijakan Bank of Japan pada bulan Oktober menunjukkan beberapa anggota tidak yakin kapan harus menaikkan suku bunga lagi, mengingat volatilitas pasar. Kondisi ini mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan Desember.
Keputusan itu tidak akan dipermudah lantaran ketidakpastian politik. Anggota parlemen Jepang akan memutuskan pada hari Senin apakah Perdana Menteri Shigeru Ishiba tetap menjadi pemimpin, setelah koalisinya kehilangan mayoritas parlemen akhir bulan lalu.
Baca Juga
Sepekan, Asing Jual Neto Dua Kali Lipat Tembus Rp 10,23 Triliun di Pasar Keuangan
Sebelumnya, investor sebagian besar kecewa dengan Kongres Rakyat Nasional Cina yang mengumumkan dana sekitar 12 triliun yuan (US$ 1,6 triliun) dalam program pertukaran utang untuk memperbaiki keuangan pemerintah daerah. Namun, kurangnya stimulus fiskal langsung dan langkah-langkah yang ditargetkan untuk memperbaiki pasar perumahan dan konsumsi pribadi membuat investor kurang bersemangat.

