Jangan Tinggalkan Manufaktur, Inilah Strategi Pembangunan Ekonomi Era Proteksionisme
Oleh Tri Winarno,
Mantan Ekonom Senior
Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter
Bank Indonesia
INVESTORTRUST.ID - Ketika kekhawatiran menyelimuti Cina, Eropa, dan Jepang tentang kemungkinan perang dagang, kita juga harus menyisihkan sebagian besar pemikiran untuk memajukan pembangunan ekonomi negara-negara berkembang, di mana Indonesia ada di dalamnya. Kekhawatiran ini dipicu kehadiran kembali pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang segera dilantik 20 Januari mendatang.
Metode mereka yang telah dicoba dan teruji untuk memperluas sektor pekerjaan di luar pertanian untuk mencapai status berpenghasilan menengah adalah dengan mengandalkan manufaktur berorientasi ekspor, dengan keterampilan rendah. Namun, bagaimana nasib negara-negara berkembang saat ini menghadapi dunia yang semakin proteksionis?
Baca Juga
Kebijakan Pemberantasan Impor Ilegal Percuma Tanpa Supremasi Hukum, Picu Deindustrialisasi
Prospek mereka mungkin akan lebih baik dari yang diekspektasikan banyak orang, terutama jika memilih jalur strategi pembangunan alternatif. Di masa lalu, negara-negara miskin berkembang melalui ekspor manufaktur, karena permintaan asing memungkinkan produsen mereka untuk mencapai skala lebih besar, dan karena produktivitas pertanian yang buruk berarti bahwa pekerja berketerampilan rendah dapat tertarik pada pekerjaan pabrik bahkan dengan upah yang murah. Kombinasi skala produksi dan biaya tenaga kerja yang murah ini membuat output negara-negara ini kompetitif secara global, meski produktivitas relatif pekerja mereka lebih rendah dari negara maju.
Ketika perusahaan mendapat untung dari ekspor, mereka berinvestasi dalam peralatan yang lebih baik, untuk membuat pekerja lebih produktif. Ketika upah naik, para pekerja mampu membayar sekolah dan perawatan kesehatan yang lebih baik untuk diri mereka dan anak-anaknya.
Perusahaan juga membayar lebih banyak pajak, yang memungkinkan pemerintah untuk berinvestasi dalam infrastruktur dan layanan yang lebih baik. Perusahaan kemudian dapat membuat produk yang lebih canggih dan bernilai tambah lebih tinggi, dan terjadilah siklus kebaikan yang terus berulang. Hal ini menjelaskan bagaimana Cina beralih dari perakitan komponen menjadi produsen kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terkemuka dunia, hanya dalam empat dekade.
Implikasi Otomatisasi di Negara Berkembang
Namun, sekarang, kunjungi pabrik perakitan ponsel di negara berkembang dan mudah untuk melihat mengapa pola pembangunan lama menjadi lebih sulit. Deretan pekerja tidak lagi menyolder bagian ke motherboard, karena sirkuit mikro telah menjadi terlalu halus untuk tangan manusia.
Sebaliknya, ada deretan mesin dengan pekerja terampil yang merawatnya, sementara pekerja tidak terampil terutama memindahkan suku cadang antarmesin atau menjaga kebersihan pabrik. Tugas-tugas ini pun juga akan segera diotomatisasi. Pabrik dengan deretan pekerja menjahit gaun atau sepatu juga menjadi lebih langka.
Otomatisasi di negara berkembang ini memiliki berbagai implikasi. Sebagai permulaan, manufaktur sekarang mempekerjakan lebih sedikit orang, terutama pekerja tidak terampil, per unit output.
Di masa lalu, negara-negara berkembang terus beralih ke manufaktur yang lebih canggih, meninggalkan manufaktur yang kurang terampil ke negara-negara miskin yang baru saja memulai jalur manufaktur yang dimotori oleh produk ekspor. Tapi sekarang, negara seperti Cina memiliki cukup surplus pekerja untuk melakukan segala macam manufaktur. Pekerja Cina berketerampilan rendah bersaing dengan rekan-rekan Bangladesh dalam bidang tekstil, sementara PhD (doktor) mereka bersaing dengan rekan-rekan Jerman dalam EV.
Selain itu, seiring menurunnya pentingnya tenaga kerja di bidang manufaktur, negara-negara industri percaya bahwa mereka dapat memulihkan daya saing mereka sendiri di sektor ini. Mereka sudah memiliki pekerja terampil yang dapat merawat mesin, jadi mereka meningkatkan hambatan proteksionis untuk me-reshore produksi. (Tentu saja, motif politik utamanya adalah untuk menciptakan lebih banyak pekerjaan bergaji tinggi bagi pekerja berpendidikan sekolah menengah yang tertinggal, tetapi otomatisasi membuat ini tidak mungkin; di sinilah nanti kegagalan Trump akan dimulai.)
| Indonesia yang merupakan negara berkembang sudah lama mengalami deindustrialisasi. Hal ini diindikasikan antara lain dengan laju pertumbuhan industri pengolahan hanya 4,72% year on year, di bawah pertumbuhan ekonomi yang juga menurun menjadi 4,95% atau di bawah level psikologis 5% pada kuartal III-2024. Infografis: Diolah Riset Investortrust. |
Baca Juga
Izin Penjualan iPhone 16 Ditahan, Sampung bakal Salip Apple di Pasar Ponsel Premium?
Secara keseluruhan, tren ini – otomatisasi, persaingan berkelanjutan dari pemain mapan seperti Cina, proteksionisme baru – telah mempersulit negara-negara miskin di Asia Selatan, Afrika, dan Amerika Latin untuk mengejar pertumbuhan manufaktur yang berbasis produk ekspor. Dengan demikian, perang dagang akan merusak ekspor komoditas mereka, sehingga mereka harus bersiap-siap dengan strategi alternatif pembangunan ekonomi, yang berarti memaksa negara-negara berkembang untuk mencari jalan alternatif yang lebih keras.
Ekspor Jasa Berketerampilan Tinggi
Jalan itu bisa dibuka dengan ekspor jasa berketerampilan tinggi. Pada tahun 2023, perdagangan jasa global tumbuh sebesar 5% secara riil (disesuaikan dengan inflasi), sementara perdagangan barang dagangan menyusut sebesar 1,2%.
Peningkatan teknologi selama pandemi Covid-19 memungkinkan lebih banyak pekerjaan jarak jauh, dan perubahan dalam praktik bisnis serta etiket telah meminimalkan kebutuhan akan kehadiran fisik. Akibatnya, perusahaan multinasional dapat dan memang melayani klien dari mana saja.
Di India, perusahaan multinasional mulai dari JPMorgan hingga Qualcomm mempekerjakan lulusan berbakat untuk staf pusat kapabilitas global (global capability centers /GCC). Di sini, arsitek, konsultan, dan pengacara membuat desain, kontrak, konten, dan perangkat lunak yang tertanam dalam barang dan jasa manufaktur yang dijual secara global.
Setiap negara berkembang memiliki elite kecil tetapi sangat terampil, yang dapat mengekspor jasa terampil secara menguntungkan, mengingat perbedaan upah yang tinggi dibandingkan dengan negara-negara maju. Pekerja yang tahu bahasa Inggris (atau Prancis atau Spanyol) mungkin sangat diuntungkan, dan bahkan jika hanya sedikit yang memiliki kemampuan ini, pekerjaan semacam itu menambah nilai domestik yang jauh lebih banyak daripada perakitan manufaktur berketerampilan rendah, sehingga berkontribusi besar pada pendapatan devisa suatu negara.
Selain itu, setiap pekerja jasa yang dibayar dengan baik dapat menciptakan lapangan kerja lokal melalui konsumsi. Ketika pekerja jasa yang lebih terampil moderat – mulai dari sopir taksi, tukang ledeng, hingga pelayan – menemukan pekerjaan tetap, mereka tidak hanya akan melayani permintaan elite, tetapi juga saling melayani atau mengonsumsi jasanya. Inilah yang namanya efek pengganda dalam perekonomian.
Ekspor jasa berketerampilan tinggi ini hanya perlu menjadi ujung tombak pertumbuhan lapangan kerja dan solusi urbanisasi yang lebih luas. Ini perlu dijadikan skala prioritas tinggi dalam strategi pembangunan.
Namun, semua pertumbuhan pekerjaan membutuhkan peningkatan kualitas tenaga kerja. Beberapa pelatihan dan peningkatan "last-mile" dapat dilakukan dengan cepat. Selama lulusan teknik memiliki pengetahuan dasar tentang bidangnya, mereka dapat dilatih dalam perangkat lunak desain canggih, yang dibutuhkan calon pemberi kerja multinasional.
Dalam jangka menengah, sebagian besar negara perlu menginvestasikan sejumlah besar nutrisi, kesehatan, dan pendidikan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia rakyatnya. Inilah yang sekarang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto dengan kebijakan makan bergizi gratis bagi siswa-siswi, ibu hamil, dan balita, yang manfaatnya akan dipetik bangsa ini 20 tahun yang akan datang.
Untungnya, investasi ini juga dapat menciptakan lapangan kerja. Dengan kebijakan yang tepat untuk pembangunan, pemerintah dapat secara substansial meningkatkan proses pembelajaran dan kesehatan di seluruh populasi.
Ini mungkin berarti mempekerjakan lebih banyak ibu berpendidikan sekolah menengah di tempat penitipan anak, untuk membantu mengajarkan anak-anak literasi dan numerasi dasar pada usia dini. Opsi lain, melatih lebih banyak praktisi medis untuk mengenali penyakit dasar, meresepkan obat-obatan, atau membuat rujukan ke dokter yang berkualifikasi bila diperlukan.
Pertumbuhan Berkualitas
Di sisi lain, negara-negara berkembang tidak perlu meninggalkan sektor manufaktur, tetapi mereka harus mengeksplorasi jalur lain menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas, tidak harus tinggi, tapi distribusinya harus sehat. Alih-alih menguntungkan satu sektor atau lainnya melalui kebijakan industri, mereka harus berinvestasi dalam jenis keterampilan yang penting untuk semua pekerjaan.
Sektor jasa sangat layak untuk dieksplorasi, karena ekonomi maju tidak mungkin mendirikan penghalang proteksionis terhadap mereka. Sebagai eksportir jasa terbesar di dunia pada tahun 2023, Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Inggris memiliki banyak kerugian dari perang dagang di domain ini.
Sejauh persaingan jasa global memengaruhi tenaga kerja mereka sendiri, hal itu akan dirasakan paling kuat oleh dokter, pengacara, bankir, konsultan, dan profesional berpenghasilan tinggi lainnya. Hal ini menyiratkan anugerah bagi konsumen layanan tersebut di negara-negara maju, dan bahkan berpotensi mengurangi ketimpangan pendapatan domestik.
Dari pemamparan di atas, dapat disimpulkan bahwa negara berkembang harus mengubah strategi pembangunan ekonominya agar mampu meningkatkan pendapatan masyarakatnya, keluar dari middle income trap. Yaitu, fokus pada pengembangan sektor jasa tetapi tidak meninggalkan sektor maufaktur.
Jakarta, 12 Januari 2025

