Ketum Kadin Anindya Sebut Proteksionisme AS Masih Beri Keuntungan, Apa Itu?
JAKARTA, Investortrust.id – Terpilihnya kembali Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat pada periode 2025-2029 layaknya de javu bagi semua kalangan. Hampir pasti, Donald Trump akan kembali menerapkan kebijakan proteksionisme, dan akan menerapkan tarif bea masuk ke sejumlah negara termasuk negara tetangganya Kanada. Namun Ketum Kamar dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyebut proteksionisme AS memberikan keuntungan bagi sejumlah negara termasuk Indonesia.
Salah satu keuntungan yang bisa dinikmati oleh Indonesia yakni terealisasinya sejumlah perjanjian perdagangan bilateral yang prosesnya sempat tersendat, seperti dengan Kanada. Seperti diketahui, kesempakatan Indonesia–Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA–CEPA) telah ditandatangani pada Senin (2/12/2024) di Jakarta.
Penandatanganan dilakukan Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso dan Menteri Promosi Ekspor, Perdagangan Internasional, dan Pembangunan Ekonomi Kanada, Mary Ng pada pembukaan kegiatan Misi Dagang Kanada ke Indonesia, di Jakarta.
“Jadi bisa bayangkan, ada manfaatnya juga nih ketika Amerika bilang proteksionisme, harga mesti naik, cepat bener nih CEPA nih yang dengan Kanada, 2 tahun jadi,” kata Anindya Bakrie pada kesempatan Investor Network Summit 2024 yang digelar PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia di Jakarta, Kamis (5/12/2024). “Jadi kebuka lah, kerja sama bilateral,” imbuh Anindya.
Baca Juga
Menurut Anindya, Indonesia telah dipandang sebagai kekuatan negara non blok, yang dipandang positif oleh sejumlah negara-negara yang ingin menjalin kerja sama bilateral. “Saya lihat Indonesia itu sebagai non-aligned country constitutionally, it's good, it's good,” tuturnya.
Ke depan, lanjut Anindya, Amerika tampaknya akan memberikan ruang yang luas bagi sektor swasta domestiknya untuk ikut mencicipi pertumbuhan ekonominya. Dari pemotongan pajak entitas usaha, yang tujuannya agar jumlah wajib pajak yang menyetorkan dananya ke kas negeri Paman Sam akan semakin meningkat.
Ia pun memprediksi ekonomi Amerika Serikat ke depan akan semakin kuat, dengan pasar modal yang akan makin aktif, dan pada ujungnya nilai tukar dolar AS pun bisa makin perkasa.
Namun demikian Anindya juga mengulas soal potensi ekspor ke sejumlah negara anggota BRICS (Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan). Salah satunya Brasil, yang saat ini masih mengalami pelemahan nilai tukar.
“Exchange rate-nya itu melemah terus. Bagus. Oh iya, jadi kita masuk (ekspor komoditas), pakai rate lama, kita bikin industrialisasi, lalu kita ekspor (ke Brasil),” tuturnya.
Di sisi lain, kata Aninndya, Indonesia di kalangan negara-negara Forum APEC-21 (Asia Pacific Economic Cooperation) dikenal sebagai the shining example dari Global South, dengan sejumlah indikator fundamental perekonomiannya yang relatif baik di tengah persaingan geoekonomi dan geopolitik dunia, termasuk jumlah populasinya yang cukup besar sebagai pasar.

