Rupiah Ditutup Melemah Rabu
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah dalam perdagangan valas Rabu (8/1/2025) sore. Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat kurs rupiah melemah 32 poin (0,19%) ke level Rp 16.201/USD, dibanding kemarin yang berada di Rp 16.169/USD.
Sedangkan berdasarkan data yang dilansir Yahoo Finance, dalam transaksi antarbank, mata uang Garuda bergerak melemah 66 poin (0,41%) ke level Rp 16.190/USD. Kemarin, kurs rupiah berada di posisi Rp 16.124/USD.
"Data lowongan kerja Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan menunjukkan kekuatan berkelanjutan di pasar tenaga kerja. Pembacaan tersebut muncul beberapa hari sebelum data utama penggajian nonpertanian untuk bulan Desember, yang akan memberikan isyarat yang lebih pasti di pasar tenaga kerja minggu ini," kata pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Rabu (8/1/2025).
Baca Juga
Lampaui 'Outlook', Subsidi Energi Pemerintah Capai Rp 386,9 Triliun
Data indeks manajer pembelian di AS yang kuat untuk bulan Desember juga memicu kekhawatiran atas inflasi yang kuat. Inflasi yang kuat dan kekuatan di pasar tenaga kerja diperkirakan akan memberi Federal Reserve lebih sedikit dorongan untuk memangkas suku bunga, dengan Bank Sentral telah memperingatkan hal itu selama pertemuannya di bulan Desember. Komentar hawkish dari pejabat The Fed menegaskan kembali gagasan ini di awal minggu.
Inflasi Cina
Cina akan merilis angka inflasi untuk Desember pada hari Kamis. Ini juga akan memberikan isyarat ekonomi lainnya bagi negara tersebut, di tengah Beijing berjuang untuk menopang pertumbuhan. Pemerintah diharapkan meningkatkan pengeluaran fiskal tahun ini untuk mendukung perekonomian, terutama dalam menghadapi hambatan terkait perdagangan dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump ke depan.
Baca Juga
Investasi Asing Bakal Dongkrak Pembiayaan Infrastruktur Hampir Rp 700 T
"Selain itu, pejabat Cina mengecam keputusan pemerintah AS awal minggu ini untuk menambahkan raksasa teknologi Tencent Holdings Ltd (HK:0700) dan pembuat baterai Tesla Inc -- Contemporary Amperex Technology -- ke dalam daftar hitam perusahaan yang memiliki hubungan dengan militer AS," tulis Ibrahim.
Langkah tersebut akan semakin memperburuk hubungan antara ekonomi terbesar di dunia tersebut. Hal ini terjadi saat Trump bersiap untuk mengenakan tarif perdagangan yang tinggi pada produk negara tersebut.
Trump telah membantah laporan awal minggu ini bahwa pemerintahannya akan mengenakan tarif yang tidak terlalu ketat, seperti yang diisyaratkan sebelumnya.

