Lampaui 'Outlook', Subsidi Energi Pemerintah Capai Rp 386,9 Triliun
JAKARTA, investortrust.id - Selama periode Januari hingga Desember 2024, pemerintah telah menggelontorkan Rp 386,9 triliun untuk subsidi energi. Angka tersebut untuk memberikan subsidi energi semisal bahan bakar minyak (BBM), minyak tanah, LPG 3 kilogram, hingga listrik rumah tangga.
Angka realisasi ini jauh di atas outlook subsidi energi pada 2024 yang tercatat di Buku II Nota Keuangan 2025 yang sebesar Rp 192,75 triliun. Proyeksi ini juga lebih dari alokasi subsidi energi sebesar Rp 186,9 triliun yang disampaikan Menteri ESDM Arifin Tasrif pada Januari 2024.
Dalam rinciannya, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan subsidi yang digulirkan pemerintah langsung dirasakan masyarakat. Misalnya subsidi solar. Menurut Suahasil seharusnya membayar Rp 11.950 per liter solar.
Namun, pemerintah melalui APBN menanggung Rp 5.150 per liter. Dengan pemberian tanggungan ini, solar yang dibeli masyarakat hanya seharga Rp 6.800 per liter.
“Karena itu selisih antara Rp11.950 dan Rp6.800 itu dibayar atau ditanggung oleh APBN, berapa yang ditanggung oleh APBN? Rp 5.150 per liter,” kata Suahasil saat konferensi pers APBN KiTA, Senin (6/1/2025).
Baca Juga
Skema Baru Subsidi Energi Tak Kunjung Diumumkan, Menteri ESDM Bahlil Ungkap Alasan Ini
Dalam APBN 2024, pemerintah menggelontorkan Rp 89,7 triliun untuk subsidi solar dengan penerima manfaat mencapai 4 juta orang.
Pemerintah juga memberikan subsidi terhadap Pertalite. Bahan bakar ini seharusnya seharga Rp 11.700 per liter. Tetapi, APBN menanggung Rp 1.700 per liter. Sehingga, masyarakat yang menggunakan hanya membayar Rp 10.000 per liter.
“Tahun 2024, APBN membayari Rp56,1 triliun dan ini kita perkirakan di sekitar Rp157,4 juta kendaraan yang mengisi pertalite,” paparnya.
Pemerintah juga masih memberikan subsidi terhadap pengguna minyak tanah. Harga per liter minyak tanah yang seharusnya Rp 11.150 menjadi Rp 2.500 karena selisih sebesar Rp 8.650 ditanggung negara.
Hingga akhir 2024, subsidi atas minyak tanah mencapai Rp 4,5 triliun dan diberikan kepada 1,8 juta penerima manfaat.
Subsidi terbesar yang terbesar diberikan pemerintah yaitu untuk LPG 3 kg. Pemerintah memberikan subsidi sebesar Rp 30.000 per tabung untuk harga yang seharusnya mencapai Rp 42.750. Pemerintah total menggelontorkan subsidi LPG 3 kg sebesar Rp 80,2 triliun.
“Cukup besar dibandingkan yang lain dan ini digunakan oleh sekitar 40,3 juta pelanggan atau biasanya digunakan untuk UMKM dan rumah tangga,” kata dia.
Baca Juga
Bahlil Sebut Formulasi Subsidi Energi Hampir Final, Condong ke Skema Blending
Lalu untuk listrik rumah tangga sebesar 900 VA subsidi dan non-subsidi realisasinya pada 2024 sebesar Rp156,4 triliun untuk 90,9 juta pelanggan.
Kenaikan subsidi dan kompensasi energi untuk 2024 ini sempat diproyeksikan Menteri Keuangan Sri Mulyani saat rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR, Agustus 2024.
Sri Mulyani menjelaskan alasan kenaikan subsidi dan kompensasi energi sebesar 17,8% pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025. Dia menyebut subsidi energi pada RAPBN 2025 tercatat sebesar Rp 394,3 triliun.
“Dibandingkan penganggaran subsidi dan kompensasi tahun 2024, yang hanya Rp 334,8 triliun,” kata Sri Mulyani.
Sri Mulyani menyatakan kenaikan subsidi dan kompensasi energi untuk 2025 terjadi karena pengaruh harga minyak, nilai tukar, dan volume bahan bakar subsidi (BBM). Ini termasuk LPG 3 kilogram, minyak mentah, dan listrik untuk rumah tangga miskin.

