IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi, Kurs Rupiah Melemah Rabu Pagi
JAKARTA, investortrust.id – Rupiah melemah terdampak penguatan indeks dolar Amerika Serikat pada Rabu pagi (23/10/2024). Hal ini seiring laporan terbaru International Monetary Fund (IMF) yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2025.
Nilai tukar mata uang Garuda terhadap greenback tercatat Rp 15.609 per dolar AS pada Rabu (23/10/2024) pukul 09.26 WIB. Merujuk data Yahoo Finance, rupiah tercatat terkoreksi 55 poin atau 0,35%.
Baca Juga
Harga Minyak Naik 2% Dipicu Perang Timur Tengah dan Pengetatan Pasokan
Sedangkan secara year to date, rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS sebesar 1,19%. Hal ini seiring data ekonomi masih kuat di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu.
"Dari AS, ada ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang tidak lagi agresif di periode mendatang. Data Factset menunjukkan, 1/5 emiten S&P 500 yang sudah rilis kinerja kuartal III-2024 juga membukukan laba bersih yang lebih baik dari perkiraan," kata analis pasar keuangan Cheril Tanuwijaya saat membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Rabu (23/10/2024).
Head of Research Mega Capital Sekuritas ini juga membeberkan, IMF merevisi naik target pertumbuhan ekonomi AS tahun ini sebesar 0,2% ke level 2,8%. Hal ini dilakukan atas pertimbangan kenaikan konsumsi yang lebih baik dari perkiraan, dengan ditopang kenaikan upah dan nilai aset.
Baca Juga
Naik Rp 11.000, Emas Antam Meroket Tembus Rekor Baru Rp 1.521.000 per Gram
Pada Rabu pagi ini, indeks dolar AS bergerak menguat 0,10 poin atau 0,09%. DXY ini secara year to date sudah naik 2,8%.
Proteksionisme Perdagangan dan Perang
Sementara itu, IMF tercatat pada Juli lalu memperkirakan produk domestik bruto (PDB) global akan meningkat ke 3,3% tahun depan, dari tahun 2024 sebesar 3,2%. Namun, dalam laporan terbarunya pekan ini, Dana Moneter Internasional memangkas proyeksi ke 3,2%, sembari memperingatkan meningkatnya sejumlah risiko, mulai dari perang hingga proteksionisme perdagangan internasional.
Proteksi besar-besaran dilancarkan AS terhadap produk Cina, terutama mobil listrik, dengan mengenakan tarif luar biasa tinggi. Langkah ini diikuti Uni Eropa.
Adapun outlook pertumbuhan ekonomi tahun ini tidak berubah pada level 3,2%. Sedangkan inflasi global diperkirakan melambat menjadi 4,3% pada 2025 dari 5,8% tahun ini.

