Bahlil Sebut Formulasi Subsidi Energi Hampir Final, Condong ke Skema Blending
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, formulasi subsidi energi memasuki tahap akhir. Saat ini, kata Bahlil tinggal dua kali uji coba untuk memastikan subsidi tepat sasaran.
"Formulasinya sudah hampir final. Kita musti butuh satu dua exercise lagi yang masih kita butuhkan untuk memastikan bahwa penerima pengalihan sebagian itu tepat sasaran," kata Bahlil di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (13/12/2024).
Baca Juga
DPR: 80% Pengguna LPG Bersubsidi Tak Tepat Sasaran, Pemerintah Diminta Evaluasi
Bahlil mengatakan, skema subsidi condong pada skema blending atau campuran. Skema blending merupakan campuran antara bantuan langsung tunai (BLT) dan subsidi langsung pada barang seperti yang sudah berjalan saat ini.
"Betul, blending. Insyaallah blending. Blending. Nanti akan kita umumkan berapa porsinya ya," katanya.
Saat ini, kata Bahlil, Badan Pusat Statistik (BPS) masih memvalidasi data penerima subsidi energi. Ketua Tim Penggodok Kebijakan Subsidi Energi ini menargetkan validasi data tersebut rampung pekan depan.
"Satu minggu ini paling terakhir, karena kan data selama ini ngga satu ya. Antara kementerian A, B, PLN, Pertamina, data kan berubah-ubah. Maka kita minta mulai sekarang datanya satu. Supaya bisa jadi rujukan buat semua tentang siapa saja yang menerima bantuan dan atau yang berhak menerima subsidi tunai. Dan sekarang BPS lagi validasi data lagi untuk bisa betul-betul yang menerima itu yang berhak," papar Bahlil.
Dalam kesempatan ini, Bahlil menekankan ojek online masuk dalam UMKM. Dikatakan, ojol harus tetap mendapat perhatian dalam subsidi energi.
"Dia masuk UMKM dan tinggal kita mengecek mereka karena kan mereka kan plat hitam ya. Kita akan buat sedemikian rupa lah agar mereka bisa kita perhatikan," katanya.
Baca Juga
Soal Skema Baru Penyaluran BBM Bersubsidi, BPH Migas Tunggu Keputusan Prabowo
Sebelumnya, Tim Penggodok Kebijakan Subsidi Energi yang dipimpin Bahlil telah menyiapkan tiga skema (formulasi) yang menjadi pertimbangan. Pertama, mengubah subsidi energi yang selama ini berbasis produk menjadi subsidi langsung atau bantuan langsung tunai (BLT).
Kedua, skema blending atau gabungan antara BLT dengan subsidi berbasis komoditas. Jadi, seluruh fasilitas umum, seperti misalnya transportasi umum, rumah sakit, dan sekolah tetap mendapat subsidi (potongan harga). Selebihnya, masyarakat umum mendapatkan BLT.
Ketiga, sebagian barang yang disubsidi bisa dinaikkan angkanya. Namun, Bahlil belum menjelaskan secara detail maksud dari formulasi ketiga ini.

