Ekonom Paramadina Minta Prabowo Perhatikan Empat Hal Ini untuk Dorong Ekonomi Tumbuh 8%
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Universitas Paramadina, Handi Risza mengungkapkan, Presiden Prabowo Subianto perlu memperhatikan setidaknya empat hal untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8% dalam jangka menengah-panjang.
Pertama, menurut Handi, pemerintah harus menggenjot investasi langsung (direct investmen) atau penanaman modal. Investasi merupakan sumber utama pertumbuhan jangka panjang karena dapat mendorong kapasitas produksi nasional.
Baca Juga
Rosan Bawa Oleh-Oleh Komitmen Investasi Tiongkok USD 7,46 Miliar, Simak Rencana Bisnisnya
"Unsur yang sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi adalah investasi. Investasi bisa merupakan trigger bagi pertumbuhan ekonomi yang bersifat jangka panjang," kata Handi Risza dalam diskusi daring yang digelar Universitas Paramadina bersama Institute of Development of Economics and Finance (Indef) di Jakarta, Senin (23/12/2024).
Handi menuturkan, target Prabowo pernah dicita-citakan Presiden ke-7 RI, Jokowi, yang sempat mematok target pertumbuhan ekonomi pada kisaran 7-8%. “Namun, selama satu dekade pemerintahan Jokowi, pertumbuhan ekonomi stagnan di level 5%, bahkan sempat minus saat pandemi Covid-19,” ujar dia.
Kedua, kata Handi Risza, pemerintahan Prabowo harus memperbaiki iklim investasi dan menciptakan birokrasi yang bersih dan transparan. Perbaikan iklim investasi mutlak diperlukan agar Indonesia menjadi tujuan utama investasi. Dengan begitu pula, penanaman modal, khususnya investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI), meningkat signifikan.
“Jika investasi meningkat, terutama pada industri padat karya, lapangan kerja akan terbuka lebih luas. Penerimaan negara juga akan meningkat. Selain itu, nilai tukar rupiah bakal lebih kuat karena dolar AS mengalir deras ke dalam negeri,” papar dia.
Handi Risza menjelaskan, porsi distribusi investasi terhadap produk domestik bruto (PDB) terus menurun. "Angka tertinggi ada pada 2015, di mana kontribusi investasi terhadap PDB mencapai 32,81%. Setelah itu terus turun, sampai 2023 kontribusinya hanya 29,33%," ujar dia.
Baca Juga
Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Apindo Beberkan Sederet Strategi Ini
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal III-2024, distribusi PDB menurut pengeluaran terdiri atas konsumsi rumah tangga sebesar 53,08%, penanaman modal tetap bruto (PMTB atau investasi sebesar 29,75%, ekspor 22,53% (dikurangi impor 20,76%), konsumsi pemerintah 7,21%, dan konsumsi lembaga non-profit rumah tangga (LNPRT) 1,29%.
Rekomendasi ketiga untuk pemerintahan Prabowo masih berkaitan dengan investasi. Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Paramadina itu menyarankan agar perbaikan iklim investasi tidak hanya menyangkut kemudahan perizinan, tapi juga pemangkasan ekonomi biaya tinggi (high cost economy), dari pungli, perpajakan, harga energi, hingga biaya logistik.
Handi mencontohkan, biaya investasi di Indonesia masih mahal akibat inefisiensi. Saat ini, Incremental Capital Output Ratio (ICOR) atau rasio investasi yang diperlukan untuk menghasilkan output PDB masih tinggi, di level 6-7. Jika Indonesia ingin mengejar pertumbuhan ekonomi 8%, ICOR harus ditekan ke level 3-4.
Baca Juga
"Indonesia butuh investasi Rp 13.528 triliun dalam lima tahun ke depan, 30% di antaranya ditopang oleh investasi," tutur dia.
Keempat, Handi Risza menyarankan pemerintahan Prabowo lebih intens menggenjot produktivitas, di antaranya dengan meningkatkan kualitas SDM, mengadopsi teknologi, serta menggalakkan inovasi dan riset.

