Indeks Dolar Melonjak 108, Rupiah Anjlok Terdalam di Asia Tembus Rp 16.312/USD
JAKARTA, investortrust.id - Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, pada perdagangan valas Kamis (19/12/2024) sore ini, kurs rupiah ditutup melemah 215 poin atau 1,3% ke level Rp 16.312/USD, bahkan sebelumnya sempat melemah 220 poin. Mata uang Garuda termasuk anjlok terdalam di Asia.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 215 poin, sebelumnya sempat melemah 220 poin, ke level Rp 16.312/USD dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.097. Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.300 - Rp 16.370/USD," katanya di Jakarta, Kamis sore.
Baca Juga
2025, Pengusaha Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,2%
Faktor Eksternal
Ia menjelaskan, indeks dolar Amerika Serikat menguat. Bahkan, kini menembus di atas 108.
Hal itu seiring Federal Reserve menyampaikan pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 4,25-4,50% yang telah lama ditunggu-tunggu, namun sekaligus mengindikasikan akan memperlambat laju siklus pelonggaran kebijakan moneternya. Para pejabat The Fed mengisyaratkan mereka kemungkinan akan menghentikan pemangkasan suku bunga di masa mendatang, mengingat pasar tenaga kerja dan inflasi AS yang stabil.
Suku bunga AS diperkirakan akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama setelah pemangkasan pada hari Rabu. Pasar telah mengesampingkan kemungkinan pemangkasan pada bulan Januari dan sekarang memperkirakan hanya dua pemangkasan lagi pada tahun 2025, dibandingkan dengan ekspektasi sebelumnya yaitu empat kali.
Baca Juga
Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan pemangkasan suku bunga utama lebih lanjut bergantung pada kemajuan dalam mengekang inflasi AS yang terus-menerus. Hal ini mencerminkan penyesuaian pembuat kebijakan terhadap potensi pergeseran ekonomi di bawah pemerintahan Presiden Terpilih AS Donald Trump ke depan.
Selain itu, Bank of Japan (BoJ) mempertahankan suku bunga tetap, menandakan lebih banyak kehati-hatian atas prospek ekonomi Jepang dan arah inflasi. Bank Sentral ini mengatakan, pihaknya memperkirakan inflasi akan meningkat pada tahun 2025 dan tetap mendekati target tahunannya sebesar 2%.
Langkah BOJ mengecewakan beberapa investor yang berharap kenaikan suku bunga pada bulan Desember, meski prospek suku bunga tetap stabil dalam waktu dekat menjadi pertanda baik bagi saham Jepang. Yen melemah setelah keputusan BoJ, yang juga menguntungkan sektor berorientasi ekspor.
Faktor Internal Tekanan Kenaikan PPN
Dari dalam negeri, Ibrahim menegaskan adanya tekanan kenaikan PPN dari 11% ke 12% tahun depan. Bahkan, sejumlah layanan langsung kena kenaikan 12% dari semula bebas PPN.
"Pemberian berbagai insentif tidak cukup untuk mengurangi dampak kenaikan PPN menjadi 12%. Permasalahan yang muncul di industri sekarang adalah menurunnya permintaan, akibat menipisnya jumlah kelas menengah yang merupakan pendorong konsumsi dalam negeri," tandas Ibrahim.
Selain itu, periode pemberian insentif yang terlalu pendek, misalnya hanya dua bulan untuk diskon tarif listrik dengan daya tertentu sebesar 50%. Insentif yang diberikan untuk industri padat karya juga diperkirakan belum cukup untuk meredam dampak kenaikan PPN tersebut.
"Apalagi, sudah terlalu banyak sektor industri yang terpuruk. Ini seperti industri tekstil dan industri alas kaki," ujarnya.
Baca Juga
Meskipun pemerintah RI memberikan insentif khusus untuk industri padat karya, daya beli masyarakat yang masih lemah membuat pemberian insentif tersebut menjadi tidak banyak berdampak. Jika kondisi tersebut tidak ditangani secara hati-hati, maka kenaikan PPN tersebut bisa saja meningkatkan potensi pegawai terkena PHK.
Tidak hanya insentif, diperlukan juga kebijakan yang dapat melindungi produk-produk dalam negeri agar permintaannya tidak semakin menurun. Berdasarkan kajian Ibrahim, barang-barang impor dari Cina banyak yang dibanderol separuh atau bahkan kurang dari separuh harga produk dalam negeri.
Oleh karena itu, ia menghimbau agar pemerintah memperketat kontrol terhadap produk-produk impor, baik yang legal maupun ilegal terutama dari Tiongkok. Hal ini agar produk dalam negeri masih dapat bersaing.

