Inflasi Inti AS Naik, Kurs Rupiah Kembali Dekati US$ 16.000/USD
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank bergerak melemah pada Kamis (12/12/2024) pagi. Dilansir Yahoo Finance, nilai tukar rupiah hingga pukul 10.00 WIB bergerak melemah 33 poin (0,21%) ke level Rp 15.942/USD, kembali mendekati level psikologis Rp 16.000/USD.
Harga barang konsumen inti di Amerika Serikat, yang tidak termasuk barang-barang yang terkait makanan dan energi, naik sebesar 0,3% dari bulan sebelumnya pada November 2024, sejalan dengan ekspektasi pasar. "Inflasi inti konsisten untuk komoditas yang dikurangi komoditas makanan dan energi (0,3% vs 0% pada Oktober), tempat tinggal 0,3% vs 0,4% pada Oktober, sementara biaya untuk layanan transportasi mandek vs 0,4% pada Oktober," papar Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro dalam analisisnya di Jakarta, Kamis (12/12/2024).
Biaya Tenaga Kerja Naik
Biaya tenaga kerja unit di sektor bisnis nonpertanian AS direvisi turun 1,1% menjadi peningkatan sebesar 0,8% pada kuartal ketiga 2024, dari 1,9% dalam estimasi awal dan di bawah ekspektasi pasar sebesar 1,5%. Hal ini mencerminkan revisi penurunan yang setara terhadap kompensasi per jam, menjadi peningkatan sebesar 3,1%.
"Biaya tenaga kerja unit meningkat 2,2% selama empat kuartal terakhir," ujar Andry Asmoro.
Sementara itu, lanjut dia, pasar menetapkan peluang hampir 100% bahwa The Fed akan memberikan pemangkasan Fed Funds Rate 25 bps lagi, minggu depan. Investor sekarang menantikan data inflasi produsen pada hari Kamis.
Pemerintah AS juga melaporkan defisit anggaran sebesar US$ 367 miliar untuk November. Ini menandai peningkatan sebesar 17% dari tahun sebelumnya, yang sebagian didorong oleh penyesuaian kalender yang menggeser pembayaran Medicare dan Jaminan Sosial Desember ke November, sehingga menambah pengeluaran sekitar US$ 80 miliar.

