Naik, Inflasi Capai 0,3% November karena Makanan
JAKARTA, investortrust.id - Indonesia mengalami inflasi secara month to month (bulanan) sebesar 0,3% pada November 2024. Inflasi ini lebih tinggi dibanding pada Oktober 2024 sebesar 0,08% secara bulanan. Inflasi terutama disumbang kelompok pengeluaran makanan, minuman dan tembakau.
"Inflasi pada November tercatat sebesar 0,3% secara bulanan. Sementara inflasi tahun kalender 1,12% year to date (ytd), dan 1,55% secara tahunan (November 2024 terhadap November 2023)," kata Plt Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti di kantor BPS Pusat, Jakarta, Senin (2/12/2024).
Baca Juga
Rencana Cukai Minuman Berpemanis: Langkah Manis atau Beban Baru Rakyat?
Amalia menjelaskan, inflasi 0,3% secara bulanan pada November 2024 terjadi karena kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK), dari sebesar 106,01 pada Oktober 2024 menjadi 106,33. Inflasi bulan November 2024, lanjut dia, lebih tinggi dari Oktober 2024, tapi lebih rendah dari November 2023.
Dia menyebut kelompok pengeluaran penyumbang inflasi terbesar pada November yaitu makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 0,78% dan andil 0,22%. Komoditas yang mendorong inflasi pada kelompok ini adalah bawang merah dan tomat, yang masing-masing memberikan andil inflasi 0,1%.
"Terdapat pula komoditas lain yang memberi inflasi yakni emas perhiasan dengan andil inflasi 0,04%, daging ayam ras, dan minyak goreng dengan andil inflasi 0,03%. Bawang putih, ikan segar, sigaret kretek mesin, tarif angkutan udara, dan kopi bubuk memberikan andil inflasi masing-masing 0,01%,” ucap dia.
Harga Emas Terus Naik 15 Bulan
BPS mencatat, selain inflasi makanan, minuman, dan tembakau yang sebesar 0,78% secara bulanan dan 1,68% secara tahunan, terdapat pendorong inflasi dari kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kedua kelompok itu mengerek inflasi November 2024 sebesar 0,3% secara bulanan dan 1,55% secara tahunan.
"Kelompok komponen perawatan pribadi tercatat mengalami inflasi bulanan sebesar 0,65% dan 7,26% secara tahunan. Andil inflasi bulanan kelompok ini sebesar 0,04%, sedangkan secara tahunan memberi andil 0,45%. Komponen perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi, pendorongnya yaitu komoditas emas perhiasan. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi kelompok kedua penyumbang utama inflasi November 2024 secara bulanan,” kata Amalia.
Amalia mengatakan harga komoditas emas perhiasan terus naik sejak 15 bulan terakhir, yakni sejak September 2023.
“Pada November 2024 mengalami inflasi 2,87% dan memberikan andil inflasi sebesar 0,04%” kata dia.
Kelompok pengeluaran lain penyumbang inflasi adalah penyediaan makanan dan minuman/restoran. Inflasinya sebesar 0,17% dan andil terhadap inflasi mtm 0,02%.
"Selain itu, kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan inflasinya sebesar 0,04% dan andil terhadap inflasi mtm 0,01%. Kemudian, kelompok pengeluaran transportasi dengan inflasinya sebesar 0,10% dan andil terhadap inflasi mtm 0,01%," paparnya.
Didorong Inflasi Volatile Food
Amalia menjelaskan, secara bulanan, menurut komponen pada November 2024, inflasi didorong komponen bergejolak (volatile food). Komponen harga bergejolak mengalami inflasi 1,07% dengan andil 0,17%. Komoditas yang memberikan andil adalah bawang merah, tomat, daging ayam ras, bawang putih, dan ikan segar.
“Komoditas itu sebelumnya mengalami deflasi, selama tujuh bulan berturut-turut,” kata dia.
Komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,17% dan memberikan andil inflasi 0,11%. Komoditas yang memberikan andil inflasi yaitu emas perhiasan, minyak goreng, dan kopi bubuk.
Untuk komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,12% dengan andil sebesar 0,02%. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah sigaret kretek mesin dan tarif angkutan udara.
Inflasi Tertinggi di Papua
Sementara itu berdasarkan wilayah, sebanyak 33 provinsi dari total 38 provinsi mengalami inflasi. Sementara lima provinsi mengalami deflasi.
“Inflasi tertinggi terjadi di Papua, yaitu sebesar 1,41%. Sementara, deflasi terdalam di Sulawesi Barat 0,17%,” kata dia.
Oktober, Indonesia mulai Inflasi Bulanan
Sebelumnya, deflasi lima bulan beruntun yang terjadi sejak Mei lalu akhirnya berakhir pada Oktober 2024. Pada Oktober, Indonesia mulai mengalami inflasi secara bulanan sebesar 0,08%. Deflasi berturut-turut sebelumnya sempat dikhawatirkan beberapa ekonom, karena dinilai bisa menjadi sinyal negatif adanya penurunan daya beli masyarakat.
“Inflasi bulan Oktober 2024 mengakhiri tren deflasi yang terjadi sejak Mei lalu, dengan kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 105,93 pada September 2024 menjadi 106,01. Inflasi pada Oktober tercatat sebesar 0,08% secara bulanan, sementara inflasi tahun kalender 0,82% year to date (ytd) dan 1,71% secara tahunan,” kata Amalia sebelumnya.
Baca Juga
Turunkan Tarif Pajak untuk Pacu Pertumbuhan Ekonomi, Mengapa?
Inflasi YoY Turun
Amalia menjelaskan lebih lanjut, pada November 2024, terjadi inflasi year on year sebesar 1,55%. Inflasi ini lebih rendah dari Oktober 1,71% yoy.
Inflasi yoy tertinggi di Provinsi Papua Tengah sebesar 4,35% dengan IHK 110,39. Sedangkan inflasi terendah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebesar 0,22%, dengan IHK sebesar 103,58.
"Untuk inflasi kabupaten/kota yoy tertinggi terjadi di Kabupaten Nabire sebesar 4,48%, dengan IHK sebesar 110,75 dan terendah di Kabupaten Muara Enim sebesar 0,08% dengan IHK sebesar 108,43. Deflasi kabupaten/kota yoy terdalam di Kabupaten Timor Tengah Selatan sebesar 1,54%, dengan IHK sebesar 104,77 dan terendah di Tanjung Pandan 0,09% dengan IHK 105,29," paparnya.
Inflasi yoy terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,68%; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,20%; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,59%; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,08%; kelompok kesehatan sebesar 1,65%; kelompok transportasi sebesar 0,03%; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,49%; kelompok pendidikan sebesar 1,89%; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,40%; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 7,26%. Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks yaitu kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,28%
"Untuk tingkat inflasi yoy komponen inti November 2024 sebesar 2,26%, inflasi ytd sebesar 2,09%, dan inflasi mtm 0,17%," ucap Amalia.

