BI akan Tahan BI Rate 6% lantaran Pro-Stability, Lalu?
Oleh Ryan Kiryanto,
Ekonom Senior dan
Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI)
INVESTORTRUST.ID - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) berlangsung dua hari, mulai hari ini hingga besok. Pelaku pasar menanti apakah Bank Sentral Indonesia akan kembali menahan suku bunga acuan, di tengah tren kurs rupiah yang tertekan terhadap dolar Amerika Serikat.
BI pasti mempertimbangkan perkembangan nilai tukar rupiah yang masih berada dalam tekanan hebat akhir-akhir ini, mendekati Rp 15.900-an per dolar AS pascakemenangan Donald Trump sebagai presiden negara adidaya untuk periode kedua. Berdasarkan data kurs Jisdor pada penutupan transaksi Selasa (19/11/2024) sore ini, nilai tukar rupiah terhadap greenback tercatat Rp 15.816.
Padahal, sebulan lalu, tekanan terhadap mata uang Garuda sudah mulai mereda dengan rupiah ditransaksikan Rp 15.466 per dolar AS. Namun, kini kursnya melemah lagi 2,26% month on month.
Baca Juga
Hal ini seiring indeks dolar AS yang kembali melambung ke level tinggi. Berdasarkan data Yahoo Finance, DXY pada pukul 16.08 WIB menguat 0,06 poin atau 0,05% ke level 106,33. Bahkan, secara year to date, sudah menguat 4,94%.
The Fed Makin Pelit
Hal itu berdampak menimbulkan ketidaknyamanan baru di dunia internasional. Langkah The Fed, Bank Sentral AS, diperkirakan juga akan makin pelit atau sulit menurunkan suku bunga acuan Fed Funds Rate. Setelah pemangkasan FFR 50 bps September dan 25 bps awal November ini, suku bunga acuan negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu berada di level 4,50%–4,75%.
Maka itu, pilihan terbaik pada RDG BI kali ini adalah tetap menahan BI Rate di level 6%, meski sebenarnya inflasi domestik terkendali dan perekonomian sedang butuh stimulus pelonggaran kebijakan moneter. Ekonomi Indonesia triwulan III-2024 terhadap triwulan III-2023 tumbuh di bawah level psikologis 5%, tepatnya sebesar 4,95% (year on year).
Dengan melihat tema BI akan lebih pro-stability, maka opsi yang rasional adalah BI melanjutkan langkah menahan BI Rate tetap 6%, meski berikutnya bisa lebih longgar. Pasalnya, ke depan, BI punya ruang cukup untuk menurunkan BI Rate minimal 25 bps, dengan syarat rupiah menguat dan stabil di kisaran Rp 15.300/dolar AS. Selain itu, inflasi terjaga di sekitar 2,5% dan stabilitas politik domestik terjaga.
Opsi lain, kalau pun kali ini RDG BI menurunkan BI Rate ke 5,75%, maka ruang Bank Sentral Indonesia menurunkan BI Rate lagi di bulan-bulan berikutnya menjadi makin amat terbatas. Sementara, probabilitas penurunan kembali FFR sebesar 25 bps pada bulan Desember kini menyusut 62%, menurun signifikan dari 86% pada awal minggu lalu. ***

