Masih Stabilkan Rupiah, Alasan BI Tahan BI Rate 6%
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan alasan tidak menurunkan BI Rate dari level 6%. Perry mengatakan Bank Indonesia ingin menstabilkan nilai tukar rupiah.
“Fokus kami masih stabilisasi nilai tukar rupiah. Pendeknya karena stabilitas pasar keuangan semakin tinggi,” ujar Perry, di kantor pusat BI, Jakarta, Rabu (18/12/2024).
Pertimbangan lainnya sehingga tidak menurunkan BI Rate pada Desember 2024, mengacu pada antisipasi langkah kebijakan Presiden AS terpilih Donald Trump yang akan berpengaruh terhadap pasar keuangan global.
Perry menjelaskan, Trump akan menerapkan tarif dengan cakupan negara dan komoditas yang diperluas. Sejumlah negara tercatat telah dikenai tarif tinggi oleh pemerintahan Trump di periode sebelumnya, seperti China, Kanada, Meksiko, Uni Eropa, dan Vietnam.
“Bacaan kami terakhir, kalau kita lihat cakupan negaranya diperluas tidak hanya lima negara tapi juga bisa ditambah, yaitu Jepang, Korea Selatan, dan Inggris,” kata dia.
Baca Juga
LPEM UI: BI Perlu Pertahankan BI Rate 6%, Tekanan ke Rupiah Jadi Pertimbangan
Penambahan negara-negara tersebut berkaitan dengan nilai surplus neraca perdagangan dengan AS. Sementara itu Indonesia berada di posisi 15 sebagai negara pencatat surplus neraca perdagangan dengan AS. “Insyaallah tidak menjadi satu sasaran yang dilakukan sekarang,” ucap dia.
Mengenai tarif, Perry mengatakan terdapat perubahan besaran tarif impor terhadap beberapa negara. Tarif impor untuk Uni Eropa disebutnya belum akan berubah. Namun besaran tarif impor barang asal China diperkirakan akan berubah.
“Itu tetap berlaku 25% untuk Uni Eropa dan Inggris, tapi untuk China dinaikkan menjadi 30%. Sementara itu, untuk Meksiko, Jepang, Kanada, Korea Selatan, dan Vietnam bacaan kami terakhir akan dikenakan 10%” jelas dia.
Perry mengatakan jenis komoditas yang dikenakan tarif impor oleh AS juga akan bertambah. Komoditas yang semula dikenakan mencakup besi baja, aluminium, dan kendaraan bermotor dari Uni Eropa dan Inggris, serta mesin elektronik dan bahan kimia dari China. “Sekarang diperluas. Bacaan kami, besi baja, alumunium, logam dasar, kendaraan dari Eropa dan Inggris dan diberlakukan untuk Jepang, Korea Selatan, Meksiko, dan China. Ini juga diperluas komoditasnya yaitu solar panel dari Vietnam, demikian juga seluruh produk impor dari China,” kata dia.

