Ekonom: Deflasi Februari karena Daya Beli Belum Pulih
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menyebut penyebab utama deflasi pada Januari dan Februari 2025 memang karena insentif tarif listrik yang diberikan pemerintah. Tapi, ada gejala yang tak biasa di balik deflasi tersebut, yakni daya beli masyarakat belum pulih.
“Menjelang Ramadan, itu mestinya bukan deflasi, tapi inflasi, walaupun tingkat inflasinya tipis,” kata Faisal, kepada investortrust.id, Jakarta, Selasa (04/03/2025).
Baca Juga
Deflasi Pangan
Salah satu gejala yang tidak biasa, deflasi juga terjadi pada kelompok makanan, walau tingkat deflasi tidak sedalam komponen harga yang diatur pemerintah. Pada Februari, komoditas pangan di antaranya daging ayam ras, bawang merah, cabai merah, cabai rawit, tomat, serta telur ayam ras mengalami deflasi.
“Biasanya menjelang Ramadan sudah ada dorongan harga-harga. Tapi, kali ini tidak,” ujar dia.
Kondisi ini menjadi suatu perbedaan yang tidak biasa. Perbedaan lain juga terjadi pada kondisi musim panen.
“Pada Februari 2025 itu baru beberapa panen padi yang terjadi, sehingga belum ada dampaknya terhadap suplai pangan secara signifikan. Artinya, karena faktor demand, merefleksikan daya beli yang belum pulih saat ini,” ucap dia.
Seharusnya Tak Tahan Belanja
Faisal melihat meski diskon tarif listrik diberikan, masyarakat terlihat masih menahan belanja menjelang Ramadan. Pada tren terdahulu, masyarakat umumnya berbelanja menjelang Ramadan untuk menyetok kebutuhan puasa. Ini biasanya tercermin dari inflasi menjelang Ramadan naik.
"Sebab, berdasarkan tren yang diamati (sebelumnya) ada peningkatan permintaan terutama produk-produk pangan. Kemudian meningkat lebih tinggi lagi di bulan Ramadan dan Lebaran,” ujar Faisal.
Namun, kondisi sekarang berbeda. Menjelang Ramdan terjadi deflasi makanan, padahal sisi produksi di dalam negeri belum puncak panen padi.

