Inflasi 2024 Sangat Terkendali, BI Punya Ruang Turunkan Bunga 25 Bps
JAKARTA, investortrust.id – Dengan inflasi Oktober 2024 hanya 0,82% secara year to date (ytd), inflasi hingga akhir tahun ini diperkirakan sangat terkendali yakni sekitar 1,82%. Tingkat inflasi tersebut dinilai mengindikasikan perekonomian masih lemah, sehingga Bank Indonesia punya ruang untuk menurunkan suku bunga acuan 25 bps pada November atau Desember nanti, menjadi 5,75%.
“Kalau diasumsikan November dan Desember inflasi masing-masing 0,5%, maka inflasi ytd baru 1,82%, ini sangat, sangat rendah. Artinya, Bank Indonesia punya ruang satu kali menurunkan suku bunga acuan 25 bps pada November atau Desember nanti, asalkan kurs rupiahnya tidak sedang bergejolak. Ini kan The Fed juga masih kemungkinan menurunkan Fed Funds Rate 25 bps sampai akhir tahun,” kata Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto kepada Investortrust.id, Jakarta, Jumat (1/11/2024) sore.
Ryan menuturkan, pada akhir tahun inflasi secara musiman akan naik. Hal ini dikarenakan pada Desember merupakan momen hari raya Natal, cuti panjang, serta liburan akhir tahun, yang mendongkrak konsumsi.
Baca Juga
Bank Indonesia pada Oktober lalu tercatat memutuskan BI Rate tetap 6%, setelah pada September menurunkan suku bunga acuan 25 bps ke 6%. Sedangkan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) menurunkan Fed Funds Rate 50 bps pada September lalu, menjadi 4,75-5,00%.
"Inflasi tahun ini sangat terkendali, mengingat sasaran Bank Indonesia kan 2,5±1% pada 2024. Dengan menurunkan BI Rate 25 bps, maka juga akan mendorong kembali perekonomian nasional," imbuh Ryan.
Pertimbangan Penurunan BI Rate
Ryan menjelaskan, BI biasanya mempertimbangkan sejumlah faktor penting sebelum menurunkan BI Rate. Bank Sentral akan melihat bagaimana kondisi ekonomi dunia, ekspektasi inflasi dalam negeri, serta dinamika nilai tukar rupiah.
"Rupiah bisa dikatakan stabil ya di sekitar Rp 15.400/USD untuk kondisi saat ini. Kalau kurs di sekitar itu, maka ruang penurunan BI Rate terbuka," papar dia.
Baca Juga
Turunkan Tarif Pajak untuk Pacu Pertumbuhan Ekonomi, Mengapa?
Deflasi Berakhir, Oktober Inflasi 0,08%
Pada kesempatan terpisah sebelumnya, Plt Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti memaparkan, deflasi lima bulan beruntun yang terjadi sejak Mei lalu akhirnya berakhir. Pada Oktober 2024, Indonesia mulai mengalami inflasi secara bulanan sebesar 0,08%. Deflasi berturut-turut sebelumnya sempat dikhawatirkan beberapa ekonom, karena dinilai bisa menjadi sinyal negatif adanya penurunan daya beli masyarakat.
“Inflasi bulan Oktober 2024 mengakhiri tren deflasi yang terjadi sejak Mei lalu, dengan kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 105,93 pada September 2024 menjadi 106,01. Inflasi pada Oktober tercatat sebesar 0,08% secara bulanan, sementara inflasi tahun kalender 0,82% year to date (ytd) dan 1,71% secara tahunan (year on year),” kata Amalia di kantor BPS Pusat, Jakarta, Jumat (1/11/2024).

