Inflasi Tahunan 1,71%, Buka Peluang BI Turunkan Suku Bunga
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulan Oktober 2024 yang tercatat sebesar 0,08% secara bulanan dan 1,71% secara tahunan. Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto memandang kondisi inflasi dalam tataran positif dan di angka yang rendah, baik secara bulanan, tahunan, dan tahun berjalan. Menurutnya rendahnya inflasi secara bulanan dan tahunan itu dapat dimanfaatkan Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga.
“Jadi kalau saya lihat ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga saat ini sangat terbuka apalagi juga, pada 6-7 November, the Fed menggelar rapat dan menurunkan Fed Fund Rate,” ujar Myrdal kepada Investortrust, Jumat (1/11/2024).
Langkah the Fed yang diproyeksikan akan menurunkan suku bunga, kata Myrdal, akan diikuti BI. Ruang penurunan BI Rate begitu besar mengingatk tidak adanya tekanan inflasi dari sisi impor hingga nilai tukar.
“Apalagi kalau lihat tekanan inflasi dari sisi impor atau imported inflation juga rendah kita lihat sekarang inflasi dari harga minyak rendah, inflasi dari sisi dolar AS juga rendah,” kata dia.
Sepakat dengan Myrdal, ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan inflasi yang rendah pada 2024 akan menjadi pertimbangan bagi BI untuk menurunkan BI Rate.
“Proyeksi inflasi yang rendah ini dapat memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan BI-rate sebagai respons terhadap potensi penurunan suku bunga The Fed,” tutur Josua.
Seperti diberitakan, inflasi pada Oktober 2024 dipengaruhi tiga kelompok pengeluaran.
Secara bulanan, kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi sebesar 0,94% dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,06%. Kelompok pengeluaran kedua yang mempengaruhi inflasi kedua yaitu penyediaan makanan dan minuman/restoran yang mengalami inflasi sebesar 0,25% dengan andil inflasi 0,03%. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi sebesar 0,09% dengan andil 0,03%.
Baca Juga
Inflasi 2024 Sangat Terkendali, BI Punya Ruang Turunkan Bunga 25 Bps
Sementara itu, secara tahunan, kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi tertinggi sebesar 7,06% dengan andil 0,43%. Pengeluaran untuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 2,35% dengan andil 0,67%. Adapun penyediaan makanan dan minuman juga mengalami inflasi sebesar 2,36% dengan andil 0,23%
Tekanan inflasi pada Oktober 2024 didorong oleh makanan jadi dan perhiasan emas. Untuk makanan jadi, mulai berkurangnya stok bawang merah dari petani membuat harga makanan jadi mengalami peningkatan di 23 kabupaten/kota.
Perhiasan emas menjadi pendorong utama inflasi Oktober 2024. Inflasi emas perhiasan tercatat 4,44% secara bulanan dengan andil 0,06%. Secara tahunan, inflasi emas perhiasan tercatat sebesar 35,28% dengan andil 0,35%.
Soal inflasi perhiasan emas, Josua menyebut hal itu dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya ketidakpastian global akibat kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS) yang belum pulih.
“Dan juga ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang memicu sentimen penghindaran risiko di pasar keuangan global,” kata Josua kepada investortrust.id, Jumat (1/11/2024).
Baca Juga
Inilah Penyumbang Inflasi Oktober, Emas Perhiasan, Daging Ayam Ras, dan Bawang Merah
Josua memperkirakan inflasi akan tetap dalam kisaran Bank Indonesia (BI) yaitu 1,5% hingga 3,5% hingga akhir tahun. Tetap rendahnya inflasi, ujar dia, dipengaruhi upaya pemeirntah yang menunda pengenaan cukai plastik dan minuman kemasan berpemanis untuk mendukung daya beli konsumen dan pertumbuhan ekonomi.
“Kami memproyeksikan tingkat inflasi di tahun 2024 sekitar 2,33% (dibandingkan 2,81% di tahun 2023)” kata dia.
Pada Oktober lalu, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung peluang untuk menurunkan BI Rate masih terbuka hingga akhir tahun.
“Inflasi di domestik yang tentu saja kami terus mencermati apakah ada ruang penurunan suku bunga lebih lanjut,” kata Juda.
BI telah menurunkan BI Rate pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18 September 2024. BI Rate turun 25 basis poin menjadi 6%.

