Risalah FOMC: The Fed Masih Buka Peluang Pangkas Suku Bunga Tahun Ini
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Pejabat bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, masih melihat peluang penurunan suku bunga tahun ini meskipun ketidakpastian meningkat akibat konflik Iran dan kebijakan tarif.
Baca Juga
The Fed Tahan Suku Bunga di Tengah Perang AS-Israel vs Iran dan Inflasi yang Memburuk
Dalam risalah rapat FOMC (Federal Open Market Committee) Maret, dikutip dari CNBC Kamis (9/4/2026), mayoritas anggota menyatakan bahwa lonjakan harga energi akibat perang bisa menekan daya beli konsumen dan pasar tenaga kerja, sehingga membutuhkan pelonggaran kebijakan moneter.
Para pembuat kebijakan menegaskan perlunya sikap fleksibel dalam menilai dampak perang terhadap inflasi yang masih berada di atas target 2%, serta kondisi ketenagakerjaan yang cenderung stagnan.
Ketua The Fed Jerome Powell sebelumnya mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga terlalu cepat justru berisiko bagi ekonomi dalam jangka panjang.
Konsensus saat ini memperkirakan satu kali pemangkasan suku bunga tahun ini, meski bank sentral tetap mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%-3,75% melalui voting 11-1.
Namun, risiko tetap terbuka. Konflik Timur Tengah bisa memicu inflasi berkepanjangan yang justru memaksa The Fed mempertimbangkan kenaikan suku bunga.
Baca Juga
Payroll AS Melonjak di Atas Ekspektasi, tapi Pasar Tenaga Kerja Masih Rapuh
Selain itu, pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda rapuh. Pertumbuhan lapangan kerja sebagian besar hanya berasal dari sektor kesehatan, memicu kekhawatiran soal keberlanjutan.
Di sisi makro, ekonomi AS juga mulai melambat. Produk domestik bruto hanya tumbuh 0,7% pada kuartal IV-2025 dan diperkirakan 1,3% pada kuartal I-2026.

