Kabinet Harus Profesional, Kolaboratif, dan Jauh dari Ego Sektoral
Oleh Sarman Simanjorang,
Ketua Bidang Hubungan Antarlembaga DPN Apindo
INVESTORTRUST.ID – Pelaku usaha berharap agar kabinet Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming Raka lebih mengedepankan figur yang profesional, berpengalaman leadership kuat, bersemangat kolaboratif, dan mumpuni pada bidang yang dipimpinnya. Selain itu, jauh dari sifat ego sektoral.
Sekalipun merupakan perwakilan partai politik, para menteri tetap harus mengedepankan profesionalisme yang dimiliki. Dengan demikian, ketika menjabat, seratus persen mengabdi untuk rakyat, bukan pada partai politik yang mengusungnya.
Presiden Prabowo dan Wapres Gibran harus selektif dalam memilih anggota kabinetnya. Terlebih kementerian yang menangani perekonomian, diperlukan tim kabinet yang berpengalaman, mengingat perekonomian global dan nasional sedang tidak baik-baik saja.
Baca Juga
IHSG Sesi I Melesat 0,58% Tersengat Calon Kabinet Prabowo-Gibran
Diperlukan menteri yang mampu bekerja sama, serta menciptakan strategi dan terobosan baru. Hal ini terutama dalam menghadapi dinamika perekonomian global yang penuh ketidakpastian.
Indikator Respons Positif
Kita berharap ketika nama-nama menteri diumumkan mendapat respons yang positif dari pasar keuangan. Indikatornya misalnya indeks harga saham gabungan (IHSG) dan nilai tukar mata uang kita menguat.
Tim ekonomi kabinet baru Prabowo-Gibran diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional. Apalagi, kini, tantangan global sangat besar, sehingga perlu memperkuat potensi ekonomi RI untuk meredam dampak negatif dari gejolak dunia.
Dunia usaha sejauh ini merespons positif masuknya sejumlah menteri lama yang akan bergabung di kabinet Prabowo-Gibran, yang sudah teruji dan memiliki kinerja yang baik di bidangnya. Ini seperti Erick Tohir, Bahlil Lahadalia, Sri Mulyani Indrawati, Airlangga Hartarto, Zulkifli Hasan, Sakti Wahyu Trenggono, Tito Karnavian, Agus Gumiwang, Pratikno, Budi Gunadi Sadikin, dan Dito Ariotedjo.
Baca Juga
Pelaku usaha berharap para menteri dapat bergerak cepat merespons dinamika ekonomi global dan nasional. Ini seperti antisipasi perlambatan perdagangan dan investasi lintasnegara dan pergerakan modal antarnegara.
Sedangkan di dalam negeri harus dilakukan langkah penting seperti pengendalian deflasi yang terjadi dalam lima bulan terakhir. Selain itu, mengatasi turunnya daya beli masyarakat, angka pengangguran yang saat ini menembus 7,2 juta, serta persentase penduduk miskin yang sampai bulan Maret 2024 di angka 9,03% atau setara 25,33 juta orang. Pertumbuhan ekonomi juga jangan hanya 5%.
Pertumbuhan Kuartal IV 5%
Pertumbuhan ekonomi 2024 ditargetkan di angka 5% lebih year on year. Artinya, pertumbuhan ekonomi kuartal III dan IV-2024 diharapkan berada di angka 5%, mengingat pertumbuhan ekonomi kuartal II-2024 sebesar 5,05% dan kuartal I-2024 sebesar 5,11%.
Kebijakan pemerintahan Joko Widodo yang mewajibkan belanja pemerintah dan BUMN mengutamakan produk dalam negeri perlu dilanjutkan, dan dipastikan eksekusinya. Dengan demikian, belanja negara tersebut akan berputar di dalam negeri, untuk meningkatkan produktivitas berbagai industri serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di seluruh Indonesia.
Menyikapi jumlah kabinet yang demikian gemuk yang diperkirakan 46 pos kementerian, sejauh itu merupakan kebutuhan Presiden dan Wakil Presiden Terpilih untuk mencapai visi dan misi yang akan ditetapkan, pelaku usaha dapat memahami. Ini dengan catatan jangan sampai memperpanjang mata rantai birokrasi, yang memperlambat pelayanan kepada masyarakat dan dunia usaha. Dunia usaha berharap kabinet Probowo-Gibran adalah kabinet yang kompak, serasi, sevisi, searah, dan jauh dari praktik korupsi. ***

