Iran Serang Israel, Kurs Rupiah Dibuka Melemah Rabu
JAKARTA, investortrust.id - Indeks dolar Amerika Serikat menguat usai Iran melancarkan serangan ke Israel. Hal ini berimbas pada nilai tukar rupiah yang dibuka melemah pada perdagangan Rabu (2/10/2024).
Pada perdagangan di pasar spot valas, dilansir Yahoo Finance, kurs mata uang Garuda bergerak melemah 30 poin ke level Rp 15.224/USD (0,20%) hingga pukul 10.00 WIB. Sementara pada perdagangan sebelumnya, kurs rupiah ditutup di level Rp 15.239/USD.
Penguatan indeks dolar terjadi usai pasukan elit Garda Revolusi Iran melancarkan serangan masif ke Israel Rabu (2/10/2024). Iran meluncurkan puluhan rudal yang dikabarkan telah merusak pangkalan udara Israel Nevatim di Nejev, sebagaimana dirilis TV pemerintah Iran dan dilansir Reuters.
"Ada peningkatan eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, seiring Iran mengirimkan serangan misil ke Israel sebagai tindakan balasan atas wafatnya pemimpin Hisbulah Hassan Nasrallah dan salah satu komandan Iran di Lebanon. Hal ini dikhawatirkan pasar akan membuat konflik geopolitik meluas," kata analis pasar keuangan Cheril Tanuwijaya saat membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Rabu (2/10/2024).
Cheril menyebut kekhawatiran itu juga ditunjukkan oleh kenaikan indeks VIX dari 15,12 ke 19,26. Selain itu, kenaikan harga komoditas minyak serta emas.
Sementara dalam pernyataannya, Garda Revolusi Iran memperingatkan Israel untuk tidak melakukan serangan balasan. Bahkan, mereka mengancam jika Israel tetap meluncurkan serangan balasan, maka respons Teheran akan "lebih menghancurkan dan merusak".
Manufaktur AS dan RI Kontraktif
Cheril membeberkan pula perkembangan data ekonomi AS. Rilis data terbaru di negara dengan perekonomian terbesar itu menunjukkan masih lemahnya kondisi manufaktur.
Hal ini direfleksikan oleh data S&P dan ISM Manufaktur bulan September 2024, yang berada di level 47. Level di bawah 50 menandai zona kontraktif.
Baca Juga
PMI Manufaktur Masih Kontraktif, Menko Airlangga: Pemerintahan Prabowo akan Beri Stimulus
Level kontraktif semacam itu juga melanda industri manufaktur Indonesia. Sebagaimana diketahui, AS merupakan penyumbang terbesar surplus neraca perdagangan Indonesia selama ini dan menjadi salah satu tujuan utama ekspor RI.

