Motor CCP Pakai Infrastruktur KPEI 
Pembahasannya masuk tahap penyusunan dan finalisasi Perjanjian Antar Pemegang Saham (PAPS), yang sebelumnya telah ditandatangani pada 12 Agustus 2024. CCP tersebut, lanjut Perry, kini sudah masuk dalam proses penyertaan modal bank.


Pembentukan CCP ini
akan bekerja sama dengan Kliring Penjaminan Efek Indonesia. Perry mengatakan akan ada penyesuaian anggaran dasar dengan KPEI, lantaran penerapan CCP memerlukan infrastruktur dari KPEI.

"Dalam anggaran dasarnya sudah disesuaikan dan juga ada RUPS luar biasa yang sudah diselesaikan," kata Perry.

Dari sisi operasional, Perry mengatakan sedang melakukan interkoneksi sistem BI, KPEI, dan bank, dalam penyelesaian akhir transaksi. Finalisasi transaksi akan tercatat di Real Time Gross Settlement (RTGS) Bank Indonesia.

Perry mengatakan KPEI akan dibukakan akun di BI. Langkah ini, kata dia, untuk digunakan dalam proses transaksi dan penyelesaian transaksi pembayarannya. 

“Nah sekarang sedang onboarding test BI-KPEI sama bank, itu sedang kita onboarding test. Insyaallah itu bisa selesaikan," kata dia.

Perry mengatakan arah dari interkoneksi BI dan KPEI ini untuk mendukung pengembangan penerapan CCP di pasar dan monitoring. Sementara dari segi organisasi dan sumber daya manusia (SDM), kata dia, sedang dibentuk unit Pasar Uang dan Valas (PUV) dalam struktur organisasi CCP.

Perry menyebut telah meminta Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dan Deputi Gubernur BI Doni Primanto Joewono agar SDM Bank Indonesia tidak akan banyak masuk di manajemen, melainkan sebagai regulator. Selain itu, Perry mengatakan dari sisi manajemen risiko, BI telah mendesain default waterfall yang terpisah dengan lembaga kliring.

"Di mana di CCP itu ada bantalan-bantalan untuk memitigasi risiko, dari yang pertama bagaimana risiko itu dimasukkan dalam perhitungan fee, kemudian juga di dalam kemudian pencadangan. Ada pula beberapa waterfall, supaya kalau terjadi kerugian itu tentu saja tidak cepat dan tidak masuk untuk kerugian modal," kata dia.