Rupiah Dibuka Lesu Meski Dana Asing Masuk, Mengapa?
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank dibuka lesu dalam perdagangan Kamis (12/9/2024) pagi, meski dana asing masih mengalir masuk ke pasar keuangan Indonesia. Dilansir Yahoo Finance, kurs dolar Amerika Serikat berhasil rebound 29 poin terhadap mata uang Garuda yang bergerak ke level Rp 15.424/USD.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro mengungkapkan, hal ini dipicu spekulasi Federal Reserve akan memangkas Fed Funds Rate sebesar 25 bps pada pertemuan minggu depan. "Para pedagang mengurangi kemungkinan pemangkasan FFR sebesar 50 bps menjadi hanya 15%," kata Andry dalam keterangan di Jakarta, Kamis (12/9/2024).
Baca Juga
Harga Emas Antam Turun Rp 2.000 per Gram, Termurah Rp 754.500
Ia menjelaskan lebih lanjut, laju inflasi tahunan di AS melambat selama lima bulan berturut-turut menjadi 2,5% pada Agustus 2024. Inflasi tersebut terendah sejak Februari 2021 dan di bawah perkiraan sebesar 2,6%. Sementara inflasi pada Juli 2024 sebesar 2,9%.
"Biaya energi menurun (-4% vs 1,1% pada Juli 2024), terutama karena bensin (-10,3% vs -2,2%), bahan bakar minyak (-12,1% vs -0,3%) dan gas alam (-0,1% vs 1,5%). Di bidang politik, debat presidensial meningkatkan peluang kemenangan Kamala Harris, meningkatkan saham solar sekaligus menekan perusahaan kripto," ujarnya.
Pada Kamis pagi ini, indeks dolar AS tercatat rebound. Berdasarkan data Yahoo Finance, pada pukul 09.49 WIB, DXY ini terangkat 0,09 poin atau 0,09%.
Yield Obligasi RI Turun
Di sisi lain, lanjut dia, yield obligasi pemerintah RI tenor 10 tahun IDR turun 2,20 bps ke level 6,60% (+8,00 bps year to date). Yield obligasi pemerintah RI tenor 10 tahun USD (INDON) juga turun 5,90 bps ke level 4,59% (-22,80 bps ytd).
Baca Juga
Sementara itu, di pasar Surat Berharga Negara, data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) masih transaksi pada Senin lalu, dengan non-resident di pasar SBN rupiah yang dapat diperdagangkan melakukan pembelian neto Rp 1,51 triliun. Hal ini membuat net buy secara month to date berbalik positif menjadi Rp 1,49 triliun di SBN rupiah yang dapat diperdagangkan hingga Senin lalu.
Secara year to date asing mencatatkan pembelian bersih Rp 11,17 triliun hingga Senin lalu.

