Mengapa Modal Asing Masuk Deras Pekan Ini, Enam Kali Lipat Tembus Rp 9,67 Triliun?
JAKARTA, investortrust.id – Dalam sepekan ini, Bank Indonesia mencatat aliran modal asing kembali masuk deras ke pasar keuangan Indonesia. Penjualan bersih (net buy) menembus Rp 9,67 triliun berdasarkan transaksi 12-15 Agustus 2024, enam kali lipat dari periode sama pekan lalu Rp 1,62 triliun.
“Pada 15 Agustus 2024, DXY (Indeks Dolar Amerika Serikat) melemah ke 102,98 dan imbal hasil US Treasury (UST) Note 10 tahun turun ke level 3,91%. Rupiah pun ditutup pada level (bid) Rp 15.690 per dolar AS,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan di Jakarta, pada hari terakhir perdagangan pekan ini.
Berdasarkan data Yahoo Finance, Indeks Dolar itu anjlok dibanding pada 12 Agustus di level 103,03. Indeks bahkan sempat merosot di level sangat rendah 102,3 pada 14 Agustus.
Sementara, berdasarkan data CNBC dalam periode tersebut, yield UST 10 tahun juga sempat merosot dari 3,9070% pada 12 Agustus ke level 3,8229% pada 14 Agustus, sebelum rebound ke level 3,9260% pada penutupan esok harinya.
Baca Juga
Perkembangan tersebut mengindikasikan investor di Amerika Serikat semakin mengantisipasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memulai pemangkasan suku bunga Fed Funds Rate pada September. Setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mencapai puncaknya di 4,70% pada April 2024, yield anjlok di bawah 4% pada Agustus.
Hal ini dianggap sebagai tren yang secara umum menguntungkan dan menghasilkan keuntungan total yang positif bagi investor obligasi, namun juga memperburuk fenomena yang terjadi hampir dua tahun, yakni kurva imbal hasil terbalik (inverted yield curve). Inversi terkait erat dengan kebijakan Bank Sentral negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu, di mana pada awal 2022 The Fed mulai menaikkan target suku bunga dana federal jangka pendek yang dikontrolnya. Sejak Juli 2023, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pun mengambil kebijakan mempertahankan suku bunga FFR pada kisaran 5,25-5,50%, dibanding mendekati 0% pada tahun 2022.
Jika yield obligasi dalam jangka panjang mulai turun, kemungkinan besar hal itu mencerminkan penurunan inflasi, sehingga The Fed akan merasa lebih nyaman memangkas suku bunga jangka pendeknya. "Cara yang lebih disukai untuk mendorong kurva imbal hasil kembali normal adalah dengan penurunan suku bunga jangka pendek lebih drastis, dibandingkan suku bunga jangka panjang. Penurunan yield Treasury jangka pendek kemungkinan akan mengikuti penurunan suku bunga dana federal,” kata Rob Haworth, direktur strategi investasi senior di Bank Wealth Management AS sebagaimana dilansir US Bank.
Baca Juga
RAPBN 2025: Pertumbuhan Ekonomi Naik ke 5,2%, Belanja Negara Rp 3.613 Triliun
Borong SBN
Erwin mengatakan, berdasarkan data transaksi 12-15 Agustus 2024, non-resident tercatat beli neto Rp 9,67 triliun. Ini terdiri atas lonjakan pembelian neto Rp 7,36 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN), Rp 2,18 triliun di pasar saham, dan Rp 0,13 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Tipisnya pembelian di SRBI itu dipengaruhi langkah Bank Indonesia yang menurunkan suku bunganya. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers yang juga dihadiri Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan SRBI akan diturunkan secara bertahap dan nantinya di bawah SBN, yang digunakan pemerintah untuk belanja.
Sementara itu, berdasarkan data transaksi 5-8 Agustus 2024, non-resident tercatat beli neto Rp 1,62 triliun. Ini terdiri dari beli neto Rp 2,24 triliun di pasar Surat Berharga Negara, Rp 0,65 triliun di saham, dan jual neto Rp 1,28 triliun di SRBI.
Erwin menjelaskan, yield SBN RI 10 tahun pada Jumat pekan ini naik menjadi 6,75%. Ini meningkat dibanding hari sebelumnya ke 6,72%.
“Berdasarkan data setelmen hingga 15 Agustus 2024, pada semester II 2024, non-resident tercatat beli neto di SRBI Rp 49,02 triliun, di pasar SBN Rp 22,42 triliun, dan di pasar saham Rp 3,02 triliun. Sedangkan sepanjang tahun 2024, berdasarkan data setelmen hingga 15 Agustus, non-resident tercatat masih jual neto Rp 11,54 triliun di pasar SBN, namunbeli neto Rp 179,37 triliun SRBI dan beli neto Rp 3,36 triliun di pasar saham,” sambung Erwin.
Rupiah Sempat di Bawah Rp 16.700/USD
Di pasar spot valas, seiring melemahnya Indeks Dolar dan derasnya dana masuk ke pasar keuangan Indonesia, rupiah pun bergerak perkasa terhadap dolar Amerika Serikat. Bahkan, sempat menembus di bawah level Rp 16.700 per dolar AS.
Kurs Jisdor BI mencatat, mata uang Garuda berada di Rp 15.691 per dolar AS pada 14 Agustus 2024. Rupiah masih menguat terhadap greenback pada 15 Agustus 2024 ke level Rp 15.687, sebelum sehari kemudian ditutup pada Rp 15.716 per dolar AS.

