Menelisik “Ramalan” Faisal Basri soal Kelas Menengah Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom senior Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Faisal Batubara atau Faisal Basri tutup usia pada Kamis (5/9/2024). Faisal meninggal dunia di usianya ke-65 tahun di Rumah Sakit (RS) Mayapada, Kuningan, Jakarta.
Faisal, dikenal sebagai ekonom yang kerap melontarkan kritik ke pemerintah punya “ramalan” mengenai ekonomi Indonesia yang tertuang dalam jurnal berjudul “Escaping the Middle Income Trap in Indonesia”. Karya yang ditulis Faisal bersama Gatot Arya Putra ini diterbitkan Friedrich Ebert Stiftung, yayasan politik tertua di Jerman yang berdiri sejak 1925.
Empat tahun sebelum pandemi Covid-19, Faisal menyebut Indonesia bakal menghadapi jebakan kelas menengah selama 13 tahun, jika Indonesia hanya mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi secara konsisten di kisaran 4,5%. “Sebelum mencapai tiga belas tahun, ancaman bagi Indonesia adalah terjebak di tingkat pendapatan rendah,” tulis Faisal, dikutip investortrust.id, Jumat (6/9/2024).
Middle income trap bakal menahan Indonesia bergerak ke arah negara berpendapatan tinggi karena masih memiliki kendala pada kualitas sumber daya manusia, pengembangan sektor manufaktur yang bergerak flat, hingga rendahnya kinerja ekspor barang dengan konten teknologi.
Baca Juga
Puan Maharani Beberkan PR Pemerintahan Prabowo-Gibran agar RI Keluar dari Middle Income Trap
“Penyebab lain dari pesimisme terhadap kapasitas ekonomi Indonesia untuk keluar dari jebakan kelas menengah adalah kinerja total factor productivity dan stok modal yang lemah,” ujar dia. Total Factor Productivity (TFP) adalah ukuran efisiensi gabungan dari semua input yang digunakan dalam proses produksi, seperti tenaga kerja, modal, dan teknologi. Intinya TFP mencerminkan seberapa efektif suatu ekonomi atau perusahaan dapat menghasilkan output (produk atau layanan) dengan menggunakan input tersebut.
Dalam penelitian yang dibuatnya, Faisal menyandingkan Indonesia dengan Korea Selatan yang berhasil lolos dari jebakan pendapatan kelas menengah. Menurutnya, ekonomi Korea Selatan dapat melaju karena pengembangan teknologi.
Selain rendahnya faktor teknologi, Faisal juga menyoroti ketimpangan pendapatan yang semakin lebar di Indonesia. Ini membuat probabilitas penurunan pertumbuhan ekonomi juga makin tinggi.
“Ini peringatan serius bagi Indonesia, yang berusaha keluar dari jebakan pendapatan rendah dan menengah. Belajar dari keberhasilan kebijakan industri Korea Selatan dan Taiwan, dengan meminimalkan ketimpangan kekayaan dan reforma agraria yang memainkan peran penting,” kata dia.
Untuk meningkatkan modal manusia, Faisal meminta pemerintah menggunakan barometer Program for International Student Assessment (PISA). Pada 2022, PISA mengumumkan peringkat Indonesia berada di 68 dari 81 negara.
Baca Juga
Jokowi Ungkap APBN 2025 Perkokoh Lompatan untuk Keluar Middle Income Trap
Program for International Student Assessment (PISA) adalah studi internasional yang dilakukan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) setiap tiga tahun sekali untuk mengevaluasi sistem pendidikan di seluruh dunia. PISA mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam tiga bidang utama: membaca, matematika, dan sains. Tujuan utama PISA adalah untuk menilai sejauh mana siswa dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka pelajari di sekolah dalam situasi kehidupan nyata.
Ketika PISA 2022 mengumumkan bahwa Indonesia berada di peringkat 68 dari 81 negara, hal ini berarti bahwa performa siswa Indonesia relatif lebih rendah dibandingkan dengan mayoritas negara peserta lainnya. Peringkat ini memberikan gambaran tentang kualitas pendidikan di Indonesia dibandingkan dengan negara lain, khususnya dalam hal bagaimana siswa Indonesia menguasai keterampilan dasar di bidang membaca, matematika, dan sains.
Sejak jurnal tersebut diterbitkan, Faisal mendesak pemerintah untuk mereformasi secara menyeluruh sistem pendidikan Indonesia. Dia menyebut sistem pendidikan Indonesia kala itu merugikan keterampilan membaca, matematika, dan sains.
“Kekurangan kualitas modal manusia di Indonesia sangat berbahaya. Akumulasi sumber daya manusia di Indonesia, berdasarkan kognitif dan durasi sekolah, tidak dapat diandalkan untuk mendukung ekonomi berkelanjutan di Indonesia,” ucap dia.
Sektor manufaktur
Faisal mengatakan Indonesia harus memanfaatkan sumber daya maritim yang dimiliki untuk mendukung industrialisasi berbasis teknologi tinggi. Menurutnya, Indonesia dapat belajar dari Korea Selatan, yang memiliki lautan lebih kecil dibandingkan Indonesia.
“Negara-negara maritim dapat diperkuat dengan merevitalisasi industri pelayaran dan meningkatkan kapasitas pelabuhan sesuai dengan standar internasional,” kata dia.
Dari sisi sektor manufaktur, Faisal menyebut sektor ini sangat sensitif di Indonesia. Dia menyebut sektor manufaktur rentan terhadap guncangan eksternal seperti krisis ekonomi, di mana kontribusi ekspor manufaktur menurun dari 50% menjadi 40% selama krisis ekonomi Asia 1998. Sebagai perbandingan, meskipun kontribusi ekspor Korea Selatan juga menurun, namun masih di kisaran 80%.
Baca Juga
Hilirisasi dan Digitalisasi Kunci Capai Indonesia Emas 2045, Ini Alasan Kadin
“Dengan demikian, modal Indonesia untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah masih tampaknya tidak memadai. Indonesia memiliki rasio ekspor teknologi tinggi terhadap total ekspor yang rendah dan secara sistematis terus menurun,” ujar dia.
Berbeda dengan Indonesia, Korea Selatan secara konsisten memiliki pertumbuhan positif, dengan kontribusi ekspor teknologi tinggi melebihi 30%. “Ini adalah indikator yang paling krusial untuk mengukur apakah Indonesia akan mampu keluar dari jebakan pendapatan menengah. Sayangnya, berdasarkan indikator tersebut, kapasitas Indonesia untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah jauh dari memadai,” kata dia.
Melihat berbagai data historis tersebut, probabilitas Indonesia terjebak di pendapatan rendah adalah 80%. Jika terjebak di pendapatan menengah, probabilitas untuk kembali terjun ke tingkat pendapatan rendah adalah 17%, dan sementara itu peluang untuk menjadi negara dengan pendapatan tinggi hanya 3%.
Kerentanan berkurangnya kelas menengah Indonesia mulai terjawab tujuh tahun setelah karya Faisal. Pada 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut terjadi penurunan kelas menengah.
Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan erdasarkan jumlah, kelas menengah Indonesia mengalami penurunan karena dampak dari pandemi Covid-19. Dia mengatakan penurunan proporsi sebesar 17,13% dari total penduduk pada 2024.
“Pada 2021 itu kelas menengah jumlahnya menjadi 53,83 juta orang dengan proporsi 19,82% dan terakhir di 2024 jumlahnya 47,85 juta orang dengan proporsi 17,13%” ujar Amalia saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR tentang RAPBN 2025 di Jakarta, Rabu (28/8/2024).
Baca Juga
Anak Indonesia dalam Tumpuan Menuju Indonesia Emas: Cengkeraman Isu Kekerasan, dan Kondisi Aktual
Amalia mengatakan selain kelas menengah BPS juga memetakan aspiring middle class atau calon kelas menengah. Kelompok ini dianggap mampu naik ke kelas menengah, namun masih dalam kerentanan kelompok miskin.
“Aspiring middle class yang 137,5 juta orang ini sebetulnya mudah untuk di-upgrade jadi kelas menengah yang proporsinya 49,22% (dari total penduduk)” kata dia.
Jumlah kelas menengah yang menurun menjadi kekhawatiran Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual. Dia menjelaskan kelas menengah Indonesia selama 5-6 tahun terakhir mengalami stagnasi.
“Bisa dilihat dari data terakhir, 5-6 tahun terakhir penjualan mobil ya segitu saja, 1 juta unit. Nggak bisa nambah,” kata David dalam investortrust CEO Forum, di Jakarta, Kamis (29/8/2024).
David menyoroti, pekerja sektor formal dari lulusan sarjana sebanyak 37% bekerja di sektor jasa pendidikan. Sisanya, 11% bekerja di sektor jasa pemerintahan.
“Kalau struktur tenaga kerjanya sebesar itu, ini akan mempengaruhi upahnya. Kalau lebih banyak yang bekerja di sektor pertanian, manufaktur, yang produktivitasnya lebih tinggi, wage-nya juga akan lebih tinggi. Ujung-ujungnya ke purchasing power dan ke pertumbuhan ekonomi kita,” kata dia.

