Hilirisasi dan Digitalisasi Kunci Capai Indonesia Emas 2045, Ini Alasan Kadin
JAKARTA, investortrust.id - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai hilirisasi dan digitalisasi menjadi kunci bagi Indonesia untuk menjadi negara yang tangguh, mandiri, dan inklusif pada 2045 atau mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045
Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia Anindya N. Bakrie mengatakan keamanan pangan, keamanan kesehatan, dan keamanan energi yang dicita-citakan oleh seluruh negara di dunia dapat dengan mudah diwujudkan oleh Indonesia melalui hilirisasi dan digitalisasi. Hilirisasi akan meningkatkan industrialisasi yang nantinya akan memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
Seperti diketahui sektor industri selama ini berperan aktif sebagai mesin pembangunan yang membawa dampak turunan, antara lain meningkatnya nilai kapitalisasi modal, kemampuan menyerap tenaga kerja yang besar, serta kemampuan menciptakan nilai tambah dari komoditas ekspor.
Baca Juga
Kadin Optimistis Transisi Pemerintahan Bakal Berjalan Mulus, Ini Alasannya
"Jadi, kita-kita semua di dunia usaha, fokusnya ada pada bagaimana industrialisasi ini terjadi. Tujuannya ada di tiga tadi, food security (keamanan pangan), health security (keamanan kesehatan), dan energy security (keamanan energi)," katanya dalam Investortrust CEO Forum di Ayana Midplaza Jakarta, Jakarta Pusat, Kamis (29/8/2024).
Menurut Anindya, Indonesia membutuhkan kebijakan untuk mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya, khususnya sumber daya mineral. Nilai tambah dari cadangan mineral yang tersimpan dalam perut bumi Nusantara sudah seharusnya dinikmati oleh masyarakat Indonesia, alih-alih menguap begitu saja karena diekspor dalam bentuk bahan mentah.
"Hingar bingar nikel yang kita lihat sekarang itu hanya satu dari puluhan komoditas (sumber daya mineral) yang bisa diolah. Kalau mengolah itu kan diperlukan investasi dan mudah-mudahan seperti yang kejadian di stainless steel (baja nirkarat) bisa kita ekspor bahkan menjadi salah satu yang terbesar di dunia," ujarnya.
Tidak hanya itu, Indonesia juga punya potensi dari energi baru terbarukan yang harus dioptimalkan. Menurut analisis dari International Renewable Energy Agency (Irena), potensi energi terbarukan Indonesia diperkirakan dapat mencapai 3.692 gigawatt (GW), termasuk potensi dari tenaga surya, angin, air, biomassa, panas bumi, arus laut, dan lain sebagainya.
Baca Juga
"Ini bisa dilakukan sambil menjaga keberlanjutan lingkungan hidup. Jadi, kalau saya selalu bilang Indonesia ini bisa menjadi the maker of decarbonization (pembuat karbonisasi) bukan hal yang muluk-muluk," ujar Anindya.
Kemudian, Anindya mengatakan hal tersebut juga didukung oleh keanekaragaman hayati yang berperan sebagai penyimpan karbon. Hal tersebut menurutnya memberikan nilai tambah bagi Indonesia yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk menggenjot industrialisasi.
Sementara itu, digitalisasi menurut Anindya menjadi senjata untuk meningkatkan nilai tambah dari industri yang sudah dikembangkan di Indonesia. Dia memberikan contoh adalah jumlah transaksi dari sebuah bank yang melonjak berkali-kali lipat tanpa adanya penambahan tenaga kerja.
"Jumlah transaksinya melonjak dari ratusan ribu jadi ratusan juta, itu tidak mungkin tidak bisa dilaksanakan tanpa digitalisasi," tegasnya.
Anindya menyebut digitalisasi tidak hanya soal implementasi teknologi untuk mempermudah pekerjaan atau menyelesaikan suatu masalah. Lebih dari itu, digitalisasi juga berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia.
Dia melihat bahwa kebijakan makan bergizi gratis yang dicanangkan oleh pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka akan memberikan dampak positif terhadap upaya tersebut, khususnya dalam jangka panjang.
"Program-program yang saya lihat seperti makan bergizi gratis yang sudah dianggarkan kalau tidak salah Rp 71 triliun. Saya rasa ini juga sebagai hal yang menantang tetapi menimbulkan kebaikan jangka panjang bukan hanya ekonomi pada saat ini. Karena bagaimanapun juga atlet-atlet ekonomi kita ini perlu bersaing dari sisi gizi," pungkasnya.

