Belajar dari India tentang Cara Mengelola Ekonomi yang Benar
Oleh Tri Winarno,
Mantan Ekonom Senior
Bank Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Di saat keraguan terhadap prospek perekonomian Tiongkok meningkat, kebangkitan India semakin menarik perhatian. Beberapa pihak memperkirakan negara tersebut akan menjadi bintang ekonomi berikutnya, di negara-negara berkembang. Namun, apakah Anda yakin India bisa menjadi ‘Tiongkok berikutnya’, mungkin bergantung pada apakah Anda lebih menganut logika Schumpeterian ‘muda atau ‘tua’ (‘young’ or ‘old; Schumpeterian logic).
Ekonom abad kedua puluh Joseph Schumpeter terkenal karena konsep “penghancuran kreatif”, yang menggambarkan bagaimana inovasi baru mengubah perekonomian, dengan membuat teknologi lama menjadi ketinggalan zaman. Namun gagasan Schumpeter tentang dinamisme ekonomi dan pembangunan tidak statis: meski pada awalnya ia menekankan peran kewirausahaan di atas segalanya, ia kemudian menyadari pentingnya bisnis besar.
Baca Juga
BI Paparkan 3 Indikator Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada 2025, Harapan Ada di India
Jadi, dalam menilai prospek India, Schumpeter ‘tua’ mungkin akan melihat jumlah bisnis besar yang telah dihasilkan negara tersebut (Tabel 1). India tertinggal jauh di belakang Tiongkok dalam hal ini, dengan hanya delapan perusahaan masuk Fortune Global 500, dibandingkan dengan negara tetangganya yang berjumlah 135. (Sebagai gambaran, Amerika Serikat memiliki 136 perusahaan Fortune Global 500, dan Korea Selatan memiliki 18 perusahaan, meski memiliki populasi lebih kecil.)
Tiongkok telah mencapai keunggulan dibandingkan India hanya dalam beberapa dekade. Pada awal tahun 1990-an, Tiongkok baru memiliki tiga perusahaan Fortune Global 500, dan India memiliki satu.
Tiongkok juga jauh melampaui India dalam pendapatan per kapita. Pada tahun 1978 – tepat sebelum Tiongkok memulai “reformasi dan keterbukaan” yang memungkinkan terjadinya 'keajaiban ekonomi' – pendapatan per kapita kedua negara berjumlah sekitar 5% dari pendapatan per kapita AS. Pada awal tahun 2010-an, pendapatan Tiongkok telah mencapai sekitar 20% pendapatan AS, dibandingkan dengan pendapatan India yang hanya 10%. Saat ini, pendapatan per kapita Tiongkok dan India dibandingkan dengan AS masing-masing sebesar 33% dan 13%.
Tiongkok Lahirkan Bisnis Kelas Dunia
Fakta bahwa Tiongkok jauh lebih sukses dibandingkan India, dalam melahirkan bisnis-bisnis besar kelas dunia, mungkin bisa membantu menjelaskan perbedaan tersebut. Bisnis besar berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Sebaliknya, semakin besarnya jumlah usaha kecil dan menengah (UKM) hanya berkorelasi dengan pertumbuhan yang lebih cepat. Hal ini menunjukkan bahwa mungkin pertumbuhanlah yang mendorong berkembangnya UKM, bukan sebaliknya.
Baca Juga
Pasar Asia Naik Setelah Melewati Pekan yang Bergejolak, Data Ekonomi India Jadi Fokus
Salah satu alasannya – seperti yang dikatakan oleh Schumpeter ‘tua’ – adalah bahwa bisnis besar cenderung melakukan kegiatan-kegiatan yang bernilai tambah tinggi, seperti penelitian dan pengembangan serta pemasaran, di dalam negeri, sementara melakukan kegiatan-kegiatan bernilai tambah rendah di luar negeri. Meski hal yang terakhir ini dapat meningkatkan pertumbuhan dan memfasilitasi transfer pengetahuan, negara-negara pendatang baru harus menerjemahkan hal itu menjadi bisnis-bisnis besar yang inovatif dan dimiliki secara lokal, jika mereka ingin memasuki segmen-segmen ekonomi global kelas atas.
Schumpeter ‘muda’ mungkin lebih terkesan dengan India, karena telah terbukti mampu menghasilkan unicorn – perusahaan swasta dengan valuasi di atas US$ 1 miliar – dengan 91 perusahaan swasta, tahun lalu (Tabel 1). Namun, yang pasti, Tiongkok juga jauh melampaui India dalam hal ini, dengan 368 unicorn. India pun tetap berada di empat besar secara global, tertinggal dari Amerika Serikat (1.524) dan Inggris (153), meski mengungguli negara-negara seperti Jerman (64), Brasil (30), dan Korea Selatan (29).
Kesenjangan antara bisnis Fortune Global 500 dan unicorn di India juga cukup besar. Pada tahun 2020-2023, rasio tersebut hanya sebesar 0,1 di India, dibandingkan dengan 0,4 di Tiongkok, 0,5 di Jerman, dan 0,25 di Brasil. Rasio di Korea Selatan – yang perekonomiannya didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar – sangat tinggi, yaitu 0,6, yang menyiratkan bahwa perusahaan-perusahaan besar sebenarnya memfasilitasi kebangkitan unicorn.
Hal ini kemungkinan besar terjadi melalui beberapa saluran. Salah satunya adalah transmisi keterampilan dan pengetahuan yang relevan melalui pekerjaan. Sebagai contoh, para pendiri Naver – yang pada dasarnya adalah ‘Google Korea’ – dulu bekerja untuk Samsung. Saluran lainnya adalah investasi langsung: raksasa teknologi Tiongkok Tencent mendukung ratusan startup sebagai investor ekuitas.
Harus Perbanyak Bisnis Besar
Schumpeter yang lebih 'tua' mungkin akan berpendapat, jika India ingin menjadi negara adidaya ekonomi yang setara dengan Tiongkok, harus memberikan perhatian lebih besar untuk menghasilkan bisnis-bisnis besar. Faktanya, tanpa perusahaan-perusahaan besar yang tumbuh di dalam negeri yang dapat mendorong pertumbuhan dan investasi, India kemungkinan besar akan kehilangan startup-startup inovatifnya, karena diakuisisi oleh raksasa-raksasa asing.
Guna menghindari ‘brain drain’ semacam ini, upaya harus dilakukan untuk membantu startup tumbuh dengan cepat di India, sehingga mereka dapat menjadi perusahaan unggulan di masa depan. Korea Selatan dan Taiwan menjadi negara berpendapatan tinggi dengan menumbuhkan beberapa perusahaan besar, seperti Samsung dan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), bukan dengan memiliki ribuan UKM.
Menciptakan iklim kelembagaan atau investasi yang baik untuk membina startup membutuhkan waktu puluhan tahun. Sementara, dibutuhkan lebih sedikit waktu untuk memusatkan sumber daya dan kompetensi di antara beberapa perusahaan, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi perusahaan unggulan yang terkemuka.
Perkembangan lebih lanjut ekonomi India yang akan menjadi Tiongkok baru patut dicermati, menjadi role model bagi pengembangan ekonomi Indonesia. Ini agar RI yang dikaruniai sumber daya yang berlimpah dengan bonus demografi juga dapat tumbuh menjadi salah satu negara dengan ekonomi kuat di dunia. Negara yang mampu menyejahterakan segenap lapisan masyarakatnya. Yang pemimpinnya berdedikasi penuh untuk kemajuan bangsa, bukan hanya mementingkan ego sendiri dan kroni serta kepentingan anak cucunya.
Banyuwangi, 1 September 2024

