BI Paparkan 3 Indikator Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada 2025, Harapan Ada di India
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2% secara tahunan pada 2025. Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan terdapat tiga indikator untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi ini.
“Ada tiga faktor, yang menurut kami pertumbuhan ekonomi 2025 akan lebih tinggi,” kata Perry saat menghadiri rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR, di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Selasa (27/8/2024).
Perry mengatakan, indikator pertama yang mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yaitu ekspor. Menurut dia, ekspor masih bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi meskipun kontribusinya kecil pada tahun ini.
Baca Juga
Capai Pertumbuhan Ekonomi 8%, Mendag Zulhas Usulkan Pemberantasan Impor Ilegal
Dari sisi global, kata Perry, pertumbuhan ekonomi global tahun depan diprediksi sebesar 3,2%. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Eropa akan lebih rendah.
“Harapan itu ada di India. Ekspor kita, kalau ke India bisa digenjot, itu (pertumbuhan ekonomi) bisa naik. Ekspor masih dijadikan sumber meski kontribusinya kecil,” kata dia.
Baca Juga
Menko Airlangga Ungkap Strategi Pemerintah Dorong Pertumbuhan Ekonomi RI Tahun 2025
Faktor kedua, kata Perry, yaitu tumpuan investasi. Dia mengatakan investasi di sektor riil memerlukan kebijakan struktural untuk menarik Penanaman Modal Asing (PMA). Dia mengatakan iklim usaha dan produktivitas menjadi bagian penting untuk menarik investasi ini.
“Tentu saja keberlanjutan hilirisasi tidak hanya minerba, tapi pertanian, pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan perlu didorong sekaligus menciptakan lapangan kerja. Selain itu mendorong sektor-sektor yang lebih kapital intensif ke padat karya,” kata dia.
Faktor ketiga yaitu konsumsi. Perry mengatakan konsumsi diharapkan bisa mendapat dorongan pada tahun mendatang. Tidak hanya melalui bansos, tapi mendorong sektor padat karya, pertanian, perkebunan, dan berbagai hal yang selama ini belum menggeliat.
“Sehingga tercipta lapangan kerja dan upah meningkat, mendorong konsumsi untuk golongan menengah yang tergantung pada bansos,” kata dia.

