Ketua AEI Sebut Ekonomi Dunia Berada di Persimpangan
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Armand Wahyudi Hartono mengatakan hampir semua negara di dunia saat ini tengah berada di tengah persimpangan jalan, untuk menuju keseimbangan baru. Salah satunya disebabkan oleh Amerika Serikat (AS) sebagai negara terbesar yang mencetak uang dan mengekspornya ke negara lain dalam bentuk surat utang yang diserap dunia, yang sebagian justru tengah mengalami krisis.
“Ya, setiap kali krisis, dia cetak duit, dikeluarin paper. Ya, cetak duitlah. Kemudian ‘diekspor’. Jadi ekspor terbesar negara itu, ya US Dollar. Bukan hanya mereka, semua negara kan juga cetak duit kalau lagi krisis. Untuk subsidi, ada BLT, dan lain-lain. Tapi yang ini besar sekali, triliunan US Dollar, yang memuat imbalance,” ujar Armand dalam Investortrust CEO Forum Bertajuk “Optimisme Baru Pembangunan Ekonomi era Pemerintahan Prabowo-Gibran” di Jakarta, Kamis (28/8/2024).
Menurut Armand, semua negara tak terkecuali Indonesia tengah berusaha mencapai keseimbangan baru. Di tengah upaya mencari keseimbangan baru tadi, sejumlah negara termasuk Indonesia jutsru dihadapkan pada tantangan baru, yakni kebijakan pemerintahan China yang tengah menggeber peningkatan jumlah serapan lapangan kerja.
Baca Juga
“Semua kita lagi mencari keseimbangan baru. Ketemu China yang dari tahun 2000 menerapkan kebijakan penciptaan lapangan kerja. Bikin China kaya dengan job creation. Cara job creation bagaimana? Ekspor (produknya, red) ke seluruh dunia,” kata Armand.
Armand juga menyoroti nasib kelas menengah di Indonesia yang membuat negeri ini tengah berada di persimpangan. Pasalnya kelas menengah di Indonesia menjadi salah satu kelompok yang merasa tak memiliki privileges seperti halnya kelompok kelas atas, atau bahkan kelas bawah. Kelas menengah tak punya keistimewaan untuk mendapatkan bantuan sosial seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), membayar jaminan sosial kesehatan seperti BPJS secara mandiri, hingga tak mendapat keringanan pajak seperti halnya kelas bawah.
Sementara itu, kelas menengah ini menurut Armand adalah kelompok yang memiliki karakter yang demanding. Punya demand yang lebih kompleks ketimbang kelas di bawah maupun yang di atasnya. Karakter demanding inilah yang menurut Armand ikut berkontribusi pada gejolak sosial yang terjadi di Chile, atau dikenal dengan fenomena Chilean Paradox.
“Ini berbahaya. Berbahayanya gimana? Contoh, ada negara di Amerika Latin yang kelas menengahnya paling banyak, Chile... Ternyata, kelas menengahnya merasa dicuekin sama pemerintah. Yang menengah bawah dapet subsidi, yang atas udah kaya dengan pertambangan, yang menengah dinaikin harga transportasi, berontak. Pemerintah jatuh,” kata Armand.
Tantangan pun dihadapi oleh masyarakat di China, yang tengah didorong oleh pemerintahnya untuk meningkatkan angka konsumsi demi mendorong pertumbuhan ekonomi negeri Tirai Bambu tersebut. Sayangnya, sebagian besar masyarakat di China memiliki portofolio investasi di properti lebih dari 50%.
Baca Juga
Kelas Menengah Turun, Ekonom BCA Ingatkan Indonesia Jangan Hanya Jadi Pasar
Sedangkan sektor properti di China tengah ambyar menyusul default-nya pemain real estate terbesar dunia milik pemerintah China, Evergrande. Pailitnya Evergrande ternyata mengirimkan sentimen buruk ke industri properti di negeri tersebut, sehingga harga atau nilai properti yang dimiliki masyarakat kini rontok. Investasi di properti inilah yang akhirnya menyandera masyarakat China untuk membatasi tingkat konsumsi mereka, dan gagal mendorong pertumbuhan konsumsi negaranya.
“(Ada ajakan pemerintah China) Ayo orang China, konsumsi tingkatkan. Belajar konsumsi kayak orang Amerika, kayak orang Indonesia yang konsumsinya lumayan. Nggak mau. (Karena) dia saving atau kekayaannya banyak di real estate sama saham, habis. Sahamnya bubble, dan real estate-nya meledak. Saya rasa di atas 50 persen kekayaan mereka di real estate. Secara nilai tiba-tiba meledak,” papar Armand.
Sedangkan di Eropa, sejumlah negara Eropa memilih membuka pintu bagi imigan asing untuk menutupi kebutuhan tenaga kerja murah, karena adanya jenis pekerjaan tertentu tak diminati oleh warga negara mereka. “Akhirnya pemerintah negara-negara Eropa memilih kebijakan untuk panggil imigran. Sekarang justru jadi masalah sosial,” ujarnya.
Baca Juga
“Perekonomian pada 5-10 tahun lalu itu teorinya (berbasis pada) efisiensi, semua terkoneksi. Siapa yang saling membutuhkan akan terkoneksi, sehingga nanti makin efisien. Yang cari murah akan ketemu. Cari yang unik, akan dapat yang unik. Hari ini apa? Proteksi diri. Dia kayak.. Wah jangan (ekspor dulu) ya, amankan diri sendiri dulu ya. Kira-kira begitu,” tutur Armand.
Untuk itu Armand sepakat dengan pendapat para ahli ekonomi dunia yang menyebut bahwa negara-negara di dunia tengah berusaha mencari keseimbangan baru. Negara-negara tersebut kini masih berada di persimpangan jalan, untuk menuju keseimbangan baru.
Dalam kesempatan yang sama, Armand juga menyampaikan ucapan untuk HUT PT Investortrust Indonesia Sejahtera yang pertama. Ia berharap bahwa Investortrust dapat terus menjadi mitra untuk mengembangkan komunitas pasar modal di Indonesia.
“Kita doakan untuk Investortrust akan selalu berkembang menjadi partner, dia yang bisa mengembangkan komunitas investor, komunitas capital market, dan semua. Orang di Indonesia ingin ekonominya berkembang dan sekaligus bisa mengembangkan ekonomi Indonesia menjadi ekonomi Indonesia Emas,” pungkasnya.

