Ekonom BCA Ingatkan Pemerintah Tingkatkan SDM, Ada Apa?
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual meminta pemerintahan Presiden Terpilih Prabowo Subianto untuk memperhatikan peningkatan sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Ini karena total factor productivity (TFP) Indonesia rendah.
“Kenapa total factor productivity kita rendah? Padahal, schooling year kita meningkat?” kata David dalam acara "Investortrust CEO Forum" di Hotel Ayana Midplaza Jakarta, Kamis (29/8/2024).
Baca Juga
Ekonom BCA: Anggaran di Pemerintahan Prabowo-Gibran Masih Longgar, Defisit APBN 2025 di Bawah 3%
Skor PISA Indonesia Rendah
Menurut David, meski angka sekolah masyarakat Indonesia naik, namun angka Programme for International Student Assessment (PISA) rendah. Mengutip paparannya, skor PISA Indonesia pada 2022 termasuk berada di peringkat bawah dari total 80 negara yang dinilai.
Skor PISA untuk matematika Indonesia, misalnya, berada pada peringkat 69 dari 80 negara. Sementara itu, skor PISA untuk sains berada pada peringkat 67 dari 80 negara, dan skor PISA untuk membaca berada pada ranking 71 dari 80 negara.
“Skor matematika, sains, dan membaca itu jauh sekali dengan negara-negara lain,” ujar dia.
Selain itu, lulusan sarjana science, technology, engineering, and mathematics (STEM) juga terbilang rendah. David mengatakan lulusan STEM hanya 18,5%.
“Beasiswa yang diberikan pemerintah untuk LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) itu (kebanyakan) untuk ilmu sosial. Saya tanya kenapa? Ya karena nggak banyak yang melamar dan inginnya masuk ke sana (ilmu sosial) finance, social, economic,” ujar dia.
Baca Juga
Pemerintahan Prabowo-Gibran Diminta Siapkan Jurus Hadapi Deretan Tantangan Global
David mengatakan lebih lanjut, rendahnya TFP Indonesia juga karena sektor informal Indonesia tinggi. Dia mengatakan 77% dari total 212 juta pekerja Indonesia bekerja di sektor informal.
“Untuk mencapai tax ratio 14% (produk domestik bruto) saja sulit, karena sektor informal besar sekali dan setelah pandemi Covid-19 makin besar. Kalau kita lihat sektornya, banyak masuk ke gigs economy, jualan online, dan leisure misalnya makanan dan minuman,” ujar dia.

