Kelas Menengah Turun, Ekonom BCA Ingatkan Indonesia Jangan Hanya Jadi Pasar
JAKARTA, investortrust.id - Jumlah kelas menengah Indonesia yang menurun hingga jutaan orang menjadi kekhawatiran Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual. Selama 5-6 tahun terakhir, lanjut dia, kelas menengah Indonesia mengalami stagnasi.
“Bisa dilihat dari data terakhir, 5-6 tahun terakhir penjualan mobil ya segitu saja, 1 juta unit. Nggak bisa nambah,” kata David dalam acara "Investortrust CEO Forum", di Hotel Ayana Midplaza Jakarta, Kamis (29/8/2024).
Baca Juga
Ekonom BCA Ingatkan Pemerintah untuk Tingkatkan SDM, Ada Apa?
David mengatakan, untuk meningkatkan kelas menengah diperlukan strategi perekonomian yang lebih tepat ke depan. Dia menyebut salah satu strateginya yaitu dengan memperhatikan kondisi geopolitik dan friendshoring.
“Jangan sampai kita hanya dijadikan sasaran negara lain sebagai konsumen. Kita juga harus memanfaatkan agar realokasi investasi itu masuk,” ujar dia.
Dengan realokasi investasi, kata David, bakal ada penyerapan tenaga kerja yang diharapkan bertransformasi menjadi kelas menengah. Dia mengatakan pula, selain mendorong investasi, diperlukan struktur tenaga kerja lebih baik.
Baca Juga
Asing Lanjutkan Net Buy Saham Rp 1,4 Triliun Kamis, di SBN Rp 2,2 Triliun
Saat ini, kata David, struktur tenaga kerja Indonesia masih mirip dengan negara-negara yang ekonominya berbasis komoditas. Ini seperti Nigeria dan negara-negara di jazirah Arab.
David menyoroti, pekerja sektor formal dari lulusan sarjana di Indonesia mencapai 37% yang bekerja di sektor jasa pendidikan. Sebanyak 11% bekerja di sektor jasa pemerintahan.
“Kalau struktur tenaga kerjanya sebesar itu (di pendidikan dan jasa pemerintahan), ini akan mempengaruhi upahnya. Kalau lebih banyak yang bekerja di sektor pertanian, manufaktur, yang produktivitasnya lebih tinggi, wage-nya juga akan lebih tinggi. Ujung-ujungnya ke purchasing power dan ke pertumbuhan ekonomi kita,” kata dia.
Turun ke 47,85 Juta Orang
Sebelumnya, Plt Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan adanya pergeseran jumlah kelas menengah di Tanah Air pada 2024. Amalia mengatakan, berdasarkan jumlah, kelas menengah Indonesia mengalami penurunan karena dampak pandemi Covid-19.
Dia mengatakan penurunan proporsi sebesar 17,13% dari total penduduk pada 2024. “Pada 2021 itu kelas menengah jumlahnya menjadi 53,83 juta orang, dengan proporsi 19,82%. Terakhir, di 2024, jumlahnya 47,85 juta orang dengan proporsi 17,13%” ujar Amalia saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR tentang RAPBN 2025 di Jakarta, Rabu (28/8/2024).
Amalia mengatakan, selain kelas menengah, BPS juga memetakan aspiring middle class atau calon kelas menengah. Kelompok ini dianggap mampu naik ke kelas menengah, namun masih dalam kerentanan kelompok miskin.
“Aspiring middle class yang 137,5 juta orang ini sebetulnya mudah untuk di-upgrade jadi kelas menengah. Ini proporsinya 49,22% (dari total penduduk)” kata dia.
Amalia mengatakan, lapangan usaha dan status pekerjaan kelas menengah mayoritas bekerja di sektor jasa. BPS mencatat sebanyak 57% kelas menengah bekerja di sektor jasa. Sisanya sebanyak 22,98% kelas menengah bekerja di sektor industri dan 19,97% kelas menengah bekerja di sektor pertanian.

