Pemerintahan Prabowo-Gibran Diminta Siapkan Jurus Hadapi Deretan Tantangan Global
JAKARTA, invesotrust.id - Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual berharap, presiden dan wakil presiden terpilih, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, sudah menyiapkan jurus dalam mengantisipasi sejumlah tantangan global yang akan memengaruhi perekonomian nasional. Salah satunya yaitu pemilu presiden Amerika Serikat (AS) pada November 2024.
“Kedua-duanya (calon presiden AS) ada perbedaan dari sisi ekonomi, politik, geopolitik juga kebijakan fiskal,” kata David dalam investortrust CEO Forum, di Jakarta, Kamis (29/8/2024).
David menjelaskan sosok capres dari Partai Republik Donald Trump menginginkan pemotongan pajak. Sementara, capres dari Partai Demokrat Kamala Haris ingin belanja yang lebih besar yang berkaitan asuransi kesehatan.
“Tapi kedua-duanya jelas dampaknya ke fiskal AS tidak begitu baik. Ini berarti defisit spending AS akan meningkat,” kata dia.
Baca Juga
Schroders: Proses Peralihan Pemerintah Akan Menentukan Arah Pasar Modal
Selain pilpres di AS, David juga menyoroti potensi penurunan Fed Fund Rate (FFR) pada September 2024. Dia mengatakan ada banyak pertanyaan dari pasar mengenai apakah nantinya penurunan ini berakhir dengan soft landing atau hard landing.
“Penurunannya basisnya 50 basis poin (bps). Terakhir, non farm payroll atau data-data ketenagakerjaan yang lain menunjukkan revisi sampai 800.000 penurunan dari sisi ketenagakerjaan,” ujar dia.
David mengatakan soft landing akan membuat pasar negara berkembang mendapatkan aliran dana asing cukup kuat. Tapi, pembalikan akan terjadi ketika hard landing ketika AS menghadapi resesi atau krisis. “Ini yang kita khawatirkan,” kata dia.
Sementara itu, dampak geopoltik juga menjadi catatan tersendiri bagi David. Dia menyebut dampak geopolitik pernah membuat rencana the Fed menurunkan suku bunga pada April 2024 batal terjadi karena ada serangan Iran ke Israel.
“Sehingga harga minyak dan biaya shipping meningkat, akibatnya the Fed khawatir inflasi naik,” kata dia.
Pertumbuhan ekonomi China, kata David, diproyeksi juga akan melambat di bawah 5%. Kondisi ini bakal mempengaruhi beberapa negara yang tergantung pada ekspor komoditas ke China.
“Dari sisi inventori China juga mengalami peningkatan produk termasuk mineral. Itu kenapa indeks manufaktur kita turun di bawah 50 artinya konstraksi karena inventori di China cukup besar,” ujar dia.
Dalam Rapat Dewan Gubernur BI, Perry Warjiyo juga sempat mengkhawatirkan kondisi dan dinamika politik global. “Kondisi ini memerlukan kehati-hatian dalam merumuskan respons kebijakan dari rambatan ketidakpastian global terhadap perekonomian domestik," kata Perry.
Seperti diketahui, Rapat Dewan Gubernur BI pada 20-21 Agustus 2024 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 6,25%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,5%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 7%.
Baca Juga
Ekonomi Indonesia Kerap Mendapat Durian Runtuh, Apa Maksudnya?
Perry mengatakan keputusan ini diambil berdasarkan pandangan konsisten dengan fokus kebijakan moneter BI yang pro-stability.
Pandangan itu memastikan penguatan lebih lanjut stabilisasi nilai tukar Rupiah serta langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan tetap terkendalinya inflasi dalam sasaran 2,5% plus minus 1% pada 2024 dan 2025.

