Keyakinan Konsumen Naik, Asing Net Buy Saham Rp 0,9 Triliun, Net Sell SBN Rp 1 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – Dana asing kembali mengalir masuk pasar saham domestik pada Kamis (8/8/2024), dengan mencatatkan net buy Rp 0,93 triliun. Capital inflow ini melonjak dibandingkan pembelian bersih kemarin Rp 0,34 triliun di Bursa Efek Indonesia.
Dengan demikian, sepanjang Agustus ini, asing telah mencatatkan pembelian bersih saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) senilai Rp 2,02 triliun month to date. “Sedangkan secara year to date, asing mencatatkan net buy saham Rp 0,97 triliun,” papar BEI dalam keterangan di Jakarta pada Kamis sore.
Baca Juga
Mtd, Asing Beli Bersih SBN
Sementara itu, di pasar Surat Berharga Negara (SBN), data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu adalah transaksi kemarin. Non-resident di pasar SBN rupiah yang dapat diperdagangkan melakukan penjualan neto Rp 1,11 triliun.
Namun, secara month to date, asing masih mencatatkan pembelian bersih Rp 4,16 triliun di SBN rupiah yang dapat diperdagangkan hingga kemarin. Sedangkan secara year to date, asing masih mencatatkan penjualan bersih Rp 29,79 triliun hingga kemarin.
Rupiah Melesat Tembus Rp 15.952/USD
Sementara itu, nilai tukar rupiah ditutup menguat menembus level psikologis di bawah Rp 16.000/USD, imbas dari pelemahan indeks dolar Amerika Serikat dalam perdagangan Kamis (8/8/2024) sore. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), kurs rupiah melesat 148 poin hingga mencapai Rp 15.952/USD, dibanding kemarin di posisi Rp 16.100/USD.
Dalam pantauan di pasar spot valas yang dilansir Yahoo Finance, kurs mata uang Garuda juga perkasa terhadap dolar AS. Hingga pukul 15.45 WIB, rupiah bergerak menguat 139 poin ke level Rp 15.890/USD, dibanding sebelumnya bertengger di posisi Rp 16.029/USD dalam penutupan perdagangan kemarin.
“Terkait tren indeks dolar yang melemah, investor sedang gundah gulana melirik prospek perekonomian AS. Ini di antaranya tingkat pengangguran yang masih tinggi, inflasi yang belum kunjung mereda, sampai ada kekhawatitan bahwa ekonomi AS terancam resesi,” kata analis PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam keterangan di Jakarta, Kamis (8/8/2024).
Baca Juga
Kurs Rupiah Melesat Imbas Dolar Melemah, Tembus Rp 15.952/USD
Ia menuturkan, investor mengharapkan Federal Reserve (The Fed) segera menurunkan suku bunga acuan di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu.
September, Bunga Turun 50 Bps
Ibrahim mengatakan lebih lanjut, investor tengah meningkatkan posisinya pada potensi The Fed untuk menurunkan suku bunga, setelah pertemuan Bank Sentral AS secara mendadak pada Rabu pekan lalu. Pada pertemuan tersebut, Ketua The Fed Jerome Powell mengisyaratkan penurunan suku bunga pada September 2024 dapat terjadi.
"Pernyataan tersebut kemudian diikuti rilis data pasar tenaga kerja yang lemah pada hari Jumat pekan yang sama. Pasar swap memperkirakan penurunan suku bunga The Fed hampir 50 basis poin pada September 2024," ungkapnya.
Ia juga menjelaskan, peran tradisional dolar AS sebagai aset safe-haven akan selalu dapat kembali muncul, jika pasar terus goyah atau ancaman geopolitik di Timur Tengah meningkat. Begitu pula dengan kembalinya fenomena Trump trade, yaitu menaruh dana pada aset seperti dolar AS atau Bitcoin, yang dipandang mendapat manfaat dari kebijakan fiskal yang lebih longgar dan tarif impor yang lebih tinggi jika Donald Trump kembali terpilih sebagai presiden AS.
Sementara di Asia, para pembuat kebijakan di Bank of Japan (BoJ) dalam rilisnya menunjukkan bahwa bank sentral masih melihat ruang untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut. Mereka menyebut suku bunga harus sekitar 1% untuk mencapai tingkat yang netral bagi perekonomian.
Sedangkan rilis data perdagangan Cina pada hari Rabu memberi gambaran ekonomi yang suram, karena surplus perdagangannya menyusut jauh lebih banyak dari ekspektasi di Juli 2024. Ekspor secara tak terduga menyusut, setelah Uni Eropa mengenakan tarif tinggi pada kendaraan listrik RRT. "Sementara, impor tembaga dan minyak Cina juga turun tajam," imbuhnya.
Di Indonesia, survei Konsumen Bank Indonesia pada Juli 2024 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi meningkat, dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2024 sebesar 123,4, lebih tinggi dibandingkan 123,3 pada bulan sebelumnya.
"Meningkatnya keyakinan konsumen pada Juli 2024 didorong oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang menguat dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang tetap optimistis," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan di Jakarta, Kamis (8/8/2024).
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini dan Indeks Ekspektasi Konsumen Juli 2024 tercatat masing-masing sebesar 113,5 dan 133,3. IKE tercatat meningkat pada seluruh komponen pembentuknya. Sementara itu, IEK tetap kuat terutama ditopang oleh Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja yang stabil dan Indeks Ekspektasi Penghasilan yang tetap tinggi.
"Peningkatan IKE Juli 2024 didorong oleh meningkatnya seluruh komponennya, yaitu Indeks Penghasilan Saat Ini, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja, dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (Durable Goods), masing-masing menjadi sebesar 121,4, 107,7 dan 111,5. Kemudian, persepsi responden terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan saat ini terindikasi meningkat," paparnya.

